AIR TERJUN TIU SEKEPER LOMBOK UTARA

Lombok banyak memiliki air terjun yang sumbernya berporos pada gunung Rinjani hingga diperkirakan masih ada yang belum di tau persis keberadaannya karena kondisi medan masih merupakan hutan lebat yang masih sulit untuk di jangkau begitu juga halnya dengan air terjun Tiu Sekeper yang merupakan air terjun yang tertinggi di pulau Lombok hingga memiliki ketinggian kurang lebih sampai 102 meter.

Pendapat lain juga menyebutkan ketinggiannya diperkirakan 140 meter dan katanya masuk dalam 10 besar air terjun tertinggi di Indonesia yang baru 2 tahun ini diketahui keberadaannya karena kondisi medan untuk menuju lokasi harus menerobos hutan lebat hingga memakan waktu 3 jam perjalanan menuju lokasi dengan berjalan kaki.

Hal ini tidak membuat saya heran karena saat saya berbincang-bincang dengan salah satu pemuda yang bermukim tidak jauh dari pintu gerbang masuk ke lokasi air terjun Tiu Sekeper sebelum saya mendapat kan guide lokal untuk memandu kami ke lokasi air terjun Tiu Sekeper dan saat pemuda ini menanyakan saya hendak kemana ?

Saya jawab mau hiking ke air terjun Tiu Sekeper lalu dia sedikit terlihat mengerutkan kening sambil berkata ” saya kira mau ke air terjun Tiu Teja, katanya ! Kalau lokasi air terjun Tiu Teja cuma 500 meter saja dari sini tapi kalau ke Tiu Sekeper saya sendiri belum pernah ke sana kata pemuda ini.

Bersama pak Badarudin (lokal guide)

Tidak lama kemudian ada seseorang laki-laki bertubuh tidak besar datang menuju tempat saya berdiri dekat warung, ternyata dia adalah orang tua dari pemilik warung tempat kami membeli air minum, setelah berkenalan namanya pak Badarudin, setelah bercakap-cakap dia juga katanya sering menghantar orang yang mau mengunjungi air terjun Tiu Sekeper.

Nah kebetulan kami juga menawarkan beliau untuk menjadi guide untuk menghantarkan kita ke lokasi air terjun, setelah sepakat sanggup dengan biaya tidak lama kemudian kami berkemas-kemas sambil mempersiapkan makanan, minuman, buah juga sempat kami beli pisang kemudian kami masukkan ke dalam tas punggung kecil  dan jalan menuju lokasi air terjun Tiu Sekeper.

Sebelum berangkat kita ambil photo dulu lalu kita posting di Facebook hal ini secara tidak langsung jika terjadi sesuatu dan lain hal setidaknya saat itu kita diketahui sedang berada di desa Santong sedang menuju lokasi air terjun Tiu Sekeper.  Pada awal perjalanan jalan setapak masih lebar hingga ke lokasi parkir air terjun Tiu Teja dengan suasana hutan yang lebat rimbun dan sejuk, semakin ke dalam trek semakin terasa menanjak dan di sebelah kanan masih bisa kita lihat luncuran air terjun Tiu Teja di bawah lembah.

Kondisi jalan yang basah dan terus menajak

Dalam perjalanan menerobos hutan dengan kondisi jalan setapak dengan banyak cabang-cabang yang membuat saya berfikir seandainya tidak menggunakan guide lokal pastilah akan banyak menghadapi masalah salah jalur, semakin kami memasuki hutan medan sangat terasa menanjak terus hingga kami banyak minum dan air pun habis tapi jangan khawatir sebelum kami berangkat pak Badarudin sudah memberitahu kami mengenai lama perjalanan akan menghabiskan waktu normal 3 jam berjalan kaki dan bila kita kehabisan air minum masih banyak sumber mata air yang berhamburan sepanjang jalan.

 

 

 

 

 

Pohon Jelateng yang harus dihindari

Di dalam hutan yang lebat ini sangat terasa aroma udara segar yang kami huruf dan sangat terasa beda dengan yang kita hirup setiap hari di kota Mataram, sesekali saat air minum kami habis ada beberapa mata air yang dipancurkan dari pipa plastik tempat kami mengisi air botol yang sudah habis, sambil berjalan ada hal-hal yang mesti harus kita hindari kata pak Badarudin yaitu bila melihat pohon seperti ini kata pak Badarudin sambil menunjuk salah satu daun dengan pohon yang tidak terlalu besar, ini kalau kami sebut namanya pohon “Jelateng.

Jika kita menyentuh atau tergores dengan duri yang ada pada daun Jelateng ini akan mengakibatkan kulit yang tertusuk duri daun jelateng akan menjadi bengkak dan terasa bagaikan disengat lebah selama 2 atau 3 hari katanya, jadi kita harus mengenali pohon dan daun ini jangan sampai kita terkena duri nya kata pak Badarudin.

Pak Badarudin sedang membersihkan sampah-sampah plastik kemudian membawa pulang setelah memasukkan ke kantong plastik

Sambil kami melanjutkan perjalanan masih ada beberapa pohon yang sudah ditebang entah oleh oknum siapa dan juga kami menemukan gubuk-gubuk tak berpenghuni di dalam hutan sepertinya milik warga yang berkebun kopi dan pisang yang nampak di dalam hutan ini setelah kami berjalan 1,5 jam kami pun sesekali waktu berhenti untuk beristirahat karena capek juga.

Sambil duduk-duduk di batang pohon yang tumbang bersama teman saya Mas Helmi Subhan kebetulan kami hanya berdua saja sambil mengamati ada beberapa jenis serangga yang belum pernah kami lihat sebelumnya begitu pun juga pak Badarudin terlihat sedang mengais-ngais sampah plastik yang berceceran di sekitar sambil menempatkan di sebuah kantong keresek bekas makanan yang kami bawa,”sepertinya pak Badarudin sudah sadar lingkungan.

jalan setapak yang berputar-putar, sebenarnya yang akan kita tuju terlihat dekat

Sepanjang perjalanan kami juga menemukan aliran sungai dan beberapa air terjun namun tidak tinggi hanya setinggi 5 meter saja dan sungai ini tidak lebar dan sudah ada jembatan kecil untuk kita gunakan melintas bahkan sudah dipasang atap sepertinya ini sekalian buat berteduh jika terjadi turun hujan, dalam pikiran saya sebenarnya jalan ini tidak akan jauh jika medan-nya lurus karena jalur ini sangat terasa berkelok-kelok sambil mendaki, setelah perjalanan lebih dari 2 jam kami sangat merasakan benar-benar berada di dalam hutan yang lebat karena tanah yang kami pijak terasa basah dan pohon-pohon semakin rindang, lebat dan bersemak.

 

 

 

Selebrasi sebelum turun ke bawah dasar air terjun Tiu Sekeper

Kira-kira hampir mendekati lokasi air terjun medan semakin sulit, kami melintasi dinding tebing dan di bawahnya terdapat lembah yang sangat dalam tapi sisi seram-nya ditutupi rimbun-nya semak belukar dan pepohonan di bawah lembah tapi di lokasi ini sudah ada akar pohon yang panjang tempat kami berpegangan bahkan ada tangga yang terbuat dari kayu untuk turun menyambung jalan setapak yang terputus oleh medan yang terbentuk oleh alam.

Tidak jauh dari lokasi ini barulah terdengar suara khas air terjun yang jatuh dari ketinggian dan suara gemuruh air yang jatuh dari pancuran air terjun. Kami memutuskan dulu untuk beristirahat beberapa menit sambil menikmati pemandangan air terjun sambil mengambil gambar dari kamera Smart phone karena bila melihat lokasi yang akan kita tuju lagi masih berada lokasi sangat bawah dengan medan turun yang sedikit licin.

Air terjun ini menurut saya memiliki luncuran yang tidak indah namun yang menarik karena memiliki ketinggian yang cukup tinggi dan memiliki medan trekking yang mengasyikkan bagi orang yang menyukai wisata trekking dengan suasana alam hutan lebat, sampai saat ini pun saya masih merindukan suasana menuju air terjun Tiu Sekeper.

Nafaspun sudah terasa siap untuk turun lalu kami lanjutkan untuk menyusuri medan setapak dengan kondisi tanah padat dan basah tapi banyak batang semak-semak tempat untuk berpegang disaat merasa medan mengancam, akhirnya setelah tiba 50 meter di bawah luncuran suasana ini indahnya tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.

Yang pasti jiwa kita terasa terbang dihempas tempias dingin luncuran yang tidak bisa utuh bila kami coba untuk mengambil gambar dengan jarak dekat, bagi yang mau mandi silahkan saja asal jangan pada kubangan luncuran karena pernah terjadi korban meninggal setelah ter-hempas oleh luncuran mayatnya terbenam tergulung ke dasar luncuran nah untuk itu jangan coba-coba main jago-jagoan di sini ya !!!

My Friend Helmi Subhan dan pak Badarudin

Setelah satu jam berada di lokasi ini badan pun sudah terasa cukup dingin silahkan ganti celana pendek basah anda, jangan berbasah-basah kembali ke lokasi tempat parkir mobil karena ini pengalaman pribadi saya hanya bawa 1 celana pendek sementara celana panjang pengganti kami taruh di tempat parkir dan mengakibatkan selangkangan saya lecet karena celana basah bergesekan dengan kulit. Hal yang paling saya ingat saat balik ke lokasi parkir saya merasakan benar benar tidak hafal dengan medan yang sudah kami lalui, saat saya coba-coba berjalan paling depan pak Badarudin selalu meng instruksi-kan dari belakang bahwa saya berbelok dengan mengambil jalur yang salah, bisa dibayangkan kalau kita ke lokasi ini dengan tanpa menggunakan guide lokal,”Bisa nyasar ke alam lain kali ya ?

Akhirnya kami hampir sampai di lokasi tempat parkir kaki sudah terasa mau gempor rencana semula tadi mau mampir di air terjun Tiu Teja saat balik sudah tidak menarik lagi akhirnya setelah tiba di lokasi tempat parkir kami ucapkan terimakasih dengan pak Badarudin  dengan harapan kami akan datang lagi menemui pak Badarudin dengan janji saya akan menjual paket wisata ke air terjun Tiu Sekeper.

Tentu harapan ke depan bila semua rencana lancar pak Badarudin bisa menjadi kordinasi guide lokal menuju air terjun Tiu Sekeper, dari sini kami harus berbalik ke kota Mataram dengan menempuh perjalanan 72 km dan saya perkirakan bisa sampai di rumah sekitar kurang dari jam 07:00 pm sebagian perjalanan kami tempuh saat matahari sudah tenggelam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *