PANTAI GUNUNG TUNAK LOMBOK SELATAN

Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak artinya : Gunung eman atau Sayang atau Tanggung atau sangat Disayangkan sudah kecil di tengah laut lagi yang tidak bisa dijadikan tempat bercocok tanam hal ini perlu untuk saya perjelas mengacu pada komentar pengunjung di salah satu blog yang yang dalam komentarnya seolah olah lucu dalam pemberian nama untuk lokasi atau nama Gunung Tunak adalah salah memberi nama yang dia maksud orang Lombok salah memberi nama  “sudah gunung kok ditengah laut lagi” katanya, padahal filosofi dari nama tersebut sangat kami fahami sebagai orang Lombok.

Gunung Tunak bagian dari sisi barat tanjung

Saat ini TWA Gunung Tunak merupakan destinasi baru-baru saja populer diperbincangkan dikalangan traveler dimulai sejak awal tahun 2014. Taman Wisata Alam Gunung Tunak berlokasi di Lombok selatan di desa Mertak kecamatan Pujut kab. Lombok Tengah dari pantai Kuta ke arah timur kira-kira 23 km hingga sampai di view point di atas tebing cadas yang mengandung berbatuan kapur.

Apalagi setelah dikunjungi oleh selebritis tanah air kita yaitu Nadien Chandrawinata pada bulan maret 2015 berpose duduk di ujung batu sambil menghadap bongkahan karang yang menjulang di tengah laut kira-kira berjarak 50 meter dari pinggir tebing kemudian di-posting di Facebook, jalur ini masih searah menuju pantai Kuta tapi di persimpangan bundaran Kuta kita harus lolos sejauh 10 km hingga kita akan tiba pada pertigaan menuju pantai Bumbang dengan ciri terdapat gapura berwarna oranye.

Di gerbang penjagaan polsus terdapat tulisan ketentuan yang harus ditaati

Tidak jauh dari Gapura ada baner finil di sudut persimpangan tertulis “TAMAN WISATA ALAM GUNUNG TUNAK” dan petunjuk arah 2 km ke pantai Bumbang tapi tulisan finil yang kami maksudkan sekarang sudah rusak dan digantikan dengan gambar iklan resort hotel, setelah berbelok ke arah kanan mengikuti jalan aspal setiba di pantai pemandangan keramba milik Balai Budidaya Laut ( BBL ) terlihat bertebaran bagaikan kotoran terkurung di teluk Bumbang.

Selanjutnya belok kiri mengikuti jalan aspal, memang sangat mengganggu pemandangan untuk sebuah objek wisata yang sangat indah jika tidak ada keberadaan keramba-keramba yang bertebaran di teluk Bumbang ini tapi dari sisi lain untuk peningkatan hasil perikanan sangat potensial dan bagus, kita memang tidak harus egois untuk menilai semua hal dari sudut pandang kita masing-masing apalagi memandang dari sisi buruknya tanpa harus mempertimbangkan sisi kebaikan lainnya, buruk untuk pariwisata tapi baik untuk hasil perikanan.

Gunung Tunak bagian dari sisi Timur tanjung

Dari ujung jalan aspal yang berakhir di pesisir pantai tapi kini pekerasan badan jalan aspal sudah sampai pada gapura Gerbang Wisata Alam Gunung Tunak, selain itu sudah berdiri bangunan di samping gerbang yang merupakan bangunan milik BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) yang terdiri dari bangunan untuk pusat informasi, bangunan aula untuk pertemuan dan terdapat beberapa kamar guest hous.

Dari gapura ini  terdapat jalan tanah untuk menuju lokasi Taman Wisata Alam Gunung Tunak yang mencakup luas wilayah 312 hektar, menurut informasi dari staf penjaga TWA Gunung Tunak ini yang berseragam Polsus (Polisi Kehutanan) pada bulan Mei 2018 jalan akses masuk ke lokasi objek inti wisata Gunung Tunak akan diaspal hingga ke lokasi objek pantai.

Setelah sampai di pantai tak ada tempat teduh tempat kami harus parkir terkecuali ke arah ujung bawah tebing

Sungguh disayangkan terdapat penghalang yang terbuat dari bambu untuk penarikan tiket masuk Rp 5,000 untuk satu orang dari harga tiket masuk Rp 5,000 untuk satu orang sangat terkesan aneh karena tidak ada tiket resmi dan tidak ada loket karcis waktu itu ternyata itu adalah pungli dari orang kampung yang mengklaim bahwa pengunjung melewati halaman depan rumahnya, barulah setelah kita menerobos pesisir pantai sejauh kira-kira 1 km meter terdapat lagi loket karcis yang tidak ada penunggu-nya (waktu itu) dan yang kami maksudkan adalah gapura atau gerbang wisata TWA Gunung Tunak yang saya bahas di atas dan 28 Januari 2018 kemarin saya bayar tiket masuk di sini Rp 7.500 / orang karena hari minggu.

Jika hari kerja tiket masuk kita bayarkan Rp 5.000 / orang tapi kami-pun harus masuk terus untuk menuju lokasi dengan melintasi konstruksi jalan aspal hancur dengan bahan material kerikil bertaburan, saat saya berkunjung yang ke dua kalinya akhir Januari 2018 badan jalan menuju pantai tergenang air hujan dan berlumpur ada beberapa pengunjung yang berbalik tidak sanggup untuk melintasi-nya.

Untuk menuju objek inti kita harus menaiki tebing menuju arah lokasi menara seperti yang nampak di gambar ini

Setelah masuk ke kawasan hutan yang tidak terlalu basah 5 km sebelum masuk ke lokasi pantai terdapat lagi petugas dari departemen kehutanan dengan berseragam hijau kecokelatan dengan bentangan portal dari batang bambu dan ada petugas dari kehutanan yang berjaga di lokasi dengan menyodorkan tiket masuk sebesar Rp 7.500 / Orang untuk satu orang pengunjung tapi kini sudah tidak dipungut lagi di lokasi ini cukup sekali kita hanya bayar tiket masuknya di gerbang yang sudah saya sebutkan tadi. Menuju lokasi wisata ini memang aneh kok begitu banyak lokasi tempat penarikan tiket masuk terus mana yang benar ?

Sisi kanan tebing teluk pantai Gunung Tunak

Ternyata menurut keterangan dari pos penjagaan kehutanan di sinilah tempat penarikan tiket masuk resmi sementara di lokasi yang pertama tadi itu pungli katanya lalu bagai mana bisa terjadi seperti itu, mereka bilang itu pungli dari masyarakat yang mengklaim pengunjung melitasi tanah pekarangan mereka, padahal tidak demikian yang kita lewati itu pesisir pantai.

Ah, sepertinya ribet untuk berkunjung ke lokasi ini menurut keterangan para penjaga pos kehutanan mereka sebelumnya pernah berseteru melarang adanya pungutan masuk tapi mereka bersikeras mengklaim pengunjung melitas masuk melalui tanah pekarangan mereka dan kini lokasi yang kita maksudkan sudah tidak ada lagi karena pesisir pantai sudah diaspal, masak orang kampung mau pasang portal lagi di jalan aspal ?

Bersama teman-teman pecintai sepeda MTB berangkat dari kota Mataram.

Terus yang aneh juga kok pihak polisi kehutanan bisa mengurusi tiket masuk taman wisata kebetulan kami datang pada hari libur bersama teman-teman dari team gowes sepeda MTB  harga tiket masuk Rp 7.500 / orang itu untuk harga hari libur dan untuk hari biasa Rp 5,000 / orang sementara untuk pengunjung asing dikenakan biaya Rp 150,000 / orang untuk hari libur dan Rp 100,000 / orang untuk hari biasa.

Harga tiket masuk ini sangat fantastis dan paling ter-mahal menurut se-pengetahuan saya untuk biaya tiket masuk destinasi pariwisata di pulau Lombok, ini sangat tidak wajar tapi hal ini sudah ada ketentuan dari pemerintah pusat bahkan sudah dipampang di tempat umum dan terdapat ketentuan-ketentuan pasal yang mengikat. waktu itu ada 2 orang turis Prancis yang menggunakan sepeda motor yang berkunjung ke lokasi ini balik karena tidak sanggup membayar tiket masuk sebesar Rp 150.000 / Orang.

Kita harus menaiki tebing sisi kiri untuk menuju lokasi menara

Akhirnya kami melanjutkan menuju arah pantai Gunung Tunak setelah membayar tiket masuk Rp 7.500 / orang waktu itu kami datang dengan membawa sepeda MTB, tapi sebelumnya kita melihat jalan ke arah kanan itu ada tujuan ke objek lainnya juga katanya yang masih satu paket dengan harga tiket masuknya dan baru-baru ini kami tahu dari informasi orang yang pernah berkunjung ke sana ternyata itu tujuan ke lokasi objek Gili Penyu seperti yang pernah saya lihat di gambar objek pariwisata pulau Lombok.

Kunjungan anda belum lengkap jika tidak sampai di lokasi menara itu.

Tentu sangat menyedihkan karena tidak sesuai dengan biaya masuk yang sudah kita bayarkan, di lokasi sangat sepi pengunjung dan tidak ada bangunan fasilitas pendukung saat itu tapi kini sudah terdapat bangunan paruga atau gazebo di beberapa titik dan yang pasti di 3 titik dengan ukuran besar 3 x 5 meter. Terdapat tanah cadas dan semak berduri yang membuat salah satu teman kami mengalami bocor ban akibat tertusuk duri. Bahkan ada yang nyeletuk untuk tidak akan datang lagi ke lokasi ini, cukup yang pertama dan yang terakhir kali katanya.

Lebih dekat ke arah menara, diatas tebing yang cadas

Apalagi mengingat akses masuk menuju lokasi ini sangat tidak bersahabat dan tidak menyenangkan, tapi akan lain ceritanya jika jalan sudah di aspal pada bulan Mei 2018 nanti, wacana ke depan dari pihak BKSDA akan membuat taman kupu-kupu kini sudah terwujud dan bangunan nya sudah ada Butterfaly Education Center dengan konstruksi bangunan berdinding tembok dan terdapat jaring di sebagian konstruksi-nya, juga akan membuat kandang rusa di sekitar pos jaga tapi tetap kami pesimis menanggapi semua itu karena harga tiket masuk terlalu mahal dengan tanpa ada fasilitas di lokasi pantai. Kami pun akhirnya berbalik dengan penuh rasa kecewa hingga di pertigaan pintu gerbang kita memilih jalur kanan menuju teluk Ekas di jalan utama dan keluar menuju jalan utama di desa Mujur menuju arah kota Praya. 

Sangat nampak besi menara terlihat sudah ada karat

4 Replies to “PANTAI GUNUNG TUNAK LOMBOK SELATAN”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *