PURA MAYURA CAKRANEGARA LOMBOK

Pura Mayura merupakan warisan kerajaan Mataram yang dibangun sejak abad ke 17 yang berlokasi di Cakranegara yang masuk dalam wilayah kota Madya Mataram saat ini merupakan destinasi wisata sejarah dan religi terutama sangat erat hubungannya dengan sejarah terbentuknya lapisan masyarakat Lombok yang terdiri dari multi etnis terutama kehadiran penganut hindu di Lombok yang sebelumnya berawal dari kedatangan Anak Agung Ngurah Karangasem beserta prajuritnya untuk meluaskan wilayah kekuasaan kerajaan di Bali.

Hal ini tidak ada perlawan dari kerajaan yang sudah ada di Lombok sebelumnya seperti halnya kerajaan Selaparang karena terdapat di Lombok Timur bahkan cerita – cerita dari orang tua saat pertama kali pasukan raja dari Bali ini datang menginjakkan kaki di Lombok melalui sisi barat pulau Lombok dan sempat berkemah di wilayah kelurahan Dasan Agung sekarang hingga nama Dasan Agung diambil dari sejarah berkemahnya Pasukan Anak Agung, Dasan dalam bahasa sasak artinya tempat dan Agung yang diartikan Anak Agung hingga kata kelurahan Dasan Agung yang sekarang ini diartikan ” tempat Anak Agung” berkemah maksudnya.

Taman Mayura yang dulu diberi nama taman kelepug yang artinya suara air yang jatuh karena di tempat ini terdapat sumber air yang berasal dari lereng gunung Rinjani hingga namanya dirubah menjadi Mayura yang artinya burung merak karena konon di tempat ini terdapat banyak ular dan seorang sahabat raja dari Paskistan memberikan saran solusi untuk mengatasi banyaknya ular yang berada di taman dengan mendatangkan merak agar ular bisa dimangsa oleh merak dan ide ini dianggap berhasil oleh raja hingga sang raja memberikan penghargaan kepada sahabat dari Pakistan dengan dibuatnya patung yang sekarang terdapat di taman menyerupai orang pakistan sumber berita ini saya dapat dari acara Lombok TV.

Masih ada lagi beberapa patung yang menyerupai orang Cina dan beberapa patung lainnya tapi untuk lebih jelas mari datang dan untuk lebih detail bisa kita tanyakan ke guide Lokal disana ada namanya pak Agus yang posturnya besar nanti pak Agus akan mengajak anda masuk kedalam dan mengajak anda ke balai Kambang dan dari sini akan dijelaskan tentang semua objek yang ada di taman tapi sebenarnya setiap pengunjung harus mengenakan selendang warna merah dan cara mengikatnya pun tidak sembarangan tergantung status.

Kalo anda punya pasangan atau sudah menikah ikatan selendang harus di pinggang yang kiri, kalau masih singel ikatan selendang sekitar bawah pusar dan kalau sudah punya calon harus di ikat di pinggang yang kanan mengenai maksudnya nanti datang tanyakan ke pak Agus tapi suasana sekarang yang paling up to date di samping tembok taman Mayura dekat dengan tempat parkir terdapat banyak orang tempat memasarkan batu akik yang nampak kelihatan kurang menarik karena para pedagang batu memasang terpal yang dicantolkan ke tembok taman selain itu juga menimbulkan efek kemacetan di saat masyarakat kota pulang dari kantor tempat mereka bekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *