Gili Kedis atau dalam bahasa setempat Kedis artinya kecil, memang ukuran Gili atau pulau ini sangatlah kecil.
Sisi barat Gili Kedis
Diperkirakan ukurannya sekitar 10 are yang saat ini sudah terdapat fasilitas gazebo untuk bersantai, toilet sederhana Musholla, ayunan, sand bad dan ada kantin juga di situ.
Lokasi pulau kecil ini terdapat pada gugusan pulau pulau yang ada di perairan kecamatan Sekotong Barat yang berjejer berdekatan dengan Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak.
Di sisi selatan tepat di selatan Gili Sudak kira-kira berjarak 300 meter, juga di sisi selatan Gili Kedis dekat dengan daratan pulau Lombok kira-kira 1 km.
Pulau ini 100% berpasir putih, di sisi selatan terdapat berbatuan cadas dan terdapat rimbunan pepohonan, semak-semak liar di bagian tengah pulau ini.
Tapi saat ini lebih tertata, lokasi ini sangat bagus untuk pengambilan gambar atau berfoto-ria karena bila kita membidikkan kamera ke arah mana saja akan
Terdapat banyak Bintang Laut di pinggir pantai Gili Kedis
panorama yang indah, seperti halnya jika kita bidik-kan ke arah utara tampak Gili Sudak, ke arah timur tampak perbukitan cadas yang hijau jika saat musim hujan dan tampak kering jika sudah masuk musim panas.
Ke arah selatan tampak daratan Sekotong Barat dengan kontur berbukit-bukit dan tampak beberapa resort hotel dari kejauhan.
Bila kita bidik-kan kamera ke arah barat maka yang akan tampak Gili Penyu dari kejauhan dengan bentuk seperti penyu raksasa sementara Gili Nanggu tidak tampak karena berada di balik Gili Tangkong.
Pemandangan ke arah timur di Gili Kedis
Suasana permukaan air sangat tenang dan tergolong dangkal hingga pada saat air surut sering tampak orang sedang berjalan dari arah Gili Sudak ke daratan Lombok dengan keadaan kaki tercelup hingga sedengkul.
Biasanya yang sering melintas di sini karyawan yang bekerja di restoran yang berada di Gili Sudak jika air dalam keadaan surut dan jika tidak mereka akan terlihat menggunakan perahu motor kecil untuk mengambil segala kebutuhan restoran.
Restoran di miliki oleh salah seorang sesepuh yang sudah lama berkecimpung di dunia pariwisata yaitu bapak Awan Aswinabawan, berpostur tinggi dengan mata sipit yang mengindikasikan dari keturunan Tiong Hoa.
Beliau adalah pemilik A&T Tour and Travel juga sekalian pemilik agen transport Wahana Loka yang berada di jalan Adi Sucipto kecamatan Ampenan berikut kantor terbarunya.
Negara Idola Gili Kedis
Pulau Gili Kedis tampak seperti jantung simbol Cinta dilihat dari atas
Pulau kecil ini sangat diidolakan oleh para wisatawan dari negara Italia, Prancis dan Belanda karena setiap kali saya guiding ke lokasi ini selalu orang-orang dari negara tersebut yang sering saya bawa.
Di seputar pulau ini sangat banyak Star Fish atau Bintang Laut yang terdampar di mana-mana, jika para pengunjung yang datang berwisata ke Gili Nanggu sepertinya pulau ini wajib untuk dikunjungi.
Sebagai ekstra destinasi tambahan karena memang sangat sayang untuk dilewatkan sebagai destinasi terakhir jangan lupa harus puas-puas-in berfoto di sini.
Karena sekarang ada dikenakan biaya tiket masuk wisata di pulau ini, kemudian setelah itu Guide akan mengajak Anda untuk balik ke daratan menuju pelabuhan Tawun, wisata pantai Cemara atau menuju pelabuhan Lembar.
Gili Gede masuk dalam wilayah kecamatan Sekotong Barat kabupaten Lombok Barat dari kota Mataram kira – kira 60 km jarak dari pantai sangat dekat hanya menyeberang 5 menit saja, ada transportasi boat yang reguler ke Gili Gede terdiri dari daratan yang berbukit dan ditumbuhi rimbunan pohon kelapa.
Akomodasi penginapan yang pertama disini yaitu SECRET ISLAND RESORT dengan harga kamar kisaran Rp 400.000 – Rp 500.000 yang merupakan investor asing dan istrinya orang indonesia ada juga bungalo – bungalo baru yang mengikuti nya.
Yut’s Inn Flower Paradise Bungalow on Gili Gede
Tempat ini sangat indah namun sayang pantainya pasir bercampur lumpur maklum tidak ada arus yang datang untuk menghembuskan lumpur.
Perairan disini seperti air danau, jarang ada gelombang tapi di sisi lain ada tempat yang bersirkulasi terdapat terumbu karang dan bagus untuk spot Snorkeling atau memancing.
Di sisi utara pulau Gili Gede terdiri dari 3 pulau destinasi untuk penginapan dan terutama destinasi untuk snorkeling diantaranya Gili Rengit, Gili Layar dan Gili Asahan, semua terletak secara sporadis di sekitar pulau Gili Gede bagian utara, lebih dekat dengan rute penyeberangan ferry lintas Lombok – Bali dari pulau ini nampak lebih jelas kita melihat kapal ferry melintas.
Untuk mengorganize trip snorkeling ke sekitar 3 Gili yang berada dibalik Gili Gede ini yaitu dapat kita akses dengan melalui pelabuhan utama yang lebih dekat dengan daratan Gili Gede yaitu pelabuhan Tembowong dimana ada beberapa pemilik boat yang selalu memposting kegiatan snorkeling ini melalui media Facebook.
Diantaranya Daeng Darso dan pak Misbah jadi kedua orang ini bisa anda cari di pelabuhan Tembowong untuk tujuan trip snorkeling selain itu ada juga orang-orang sekitar yang pelabuhan yang mengorganise trip dengan tujuan yang sama.
Selain dari pelabuhan Tembowong bisa juga anda organize trip dari pelabuhan Tawun 10 km ke arah timur yang sebenarnya ini adalah pelabuhan pendukung untuk menuju 3 Gili yang berada disebelah timurnya yaitu Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak tapi yang jelasdari kedua kubu ini bisa melakukan hal yang sama juga karena kondisi dan kapasitas boat hampir sama.
Didukung oleh kekuatan mesin yang sama-sama kecil juga antara 10 PK – 15 PK disekitar lokasi ini memang sudah tidak bisa diragukan lagi mengenai taman laut dan aneka ragam jenis ikan hingga Dive Zone usaha menyelam yang berbasis di Kuta Lombok sering terlihat perahunya menghantar tamu nya untuk menyelam dikawasan perairanSekotong Barat
Pulau ini (Gili Air) bagian dari rentetan 3 Gili yang sangat populer diperbincangkan sebagai destinasi pariwisata yang sangat diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara yang dibuktikan dengan semakin tingginya tingkat kunjungan ke 3 pulau ini khususnya Gili Trawangan.
Sementara Gili Air yang sebenarnya lebih populer terlebih dahulu ketimbang Gili Trawangan kini bagaikan penonton yang keluar liur melihat perkembangan pesatnya pariwisata Gili Trawangan.
Awal dari dikenalnya pariwisata di 3 Gili dimulai dari Gili Air tapi setiap pengusaha kabarnya terlalu banyak diintervensi oleh penduduk setempat hingga setiap investor tidak bisa leluasa, hingga membuat pengusaha menjadi tidak nyaman untuk berinvestasi.
Ketahui: 10 Hal Tentang Pulau Ini
Populasi Awal 3 Gili
Matahari nampak tenggelam di balik Gili Trawangan
Gili Air merupakan induk dari masyarakat 3 Gili yang sangat berperan terlibat dalam mengembangkan pariwisata 3 Gili termasuk sebagian besar kepemilikan boat yang beroperasi reguler ke 3 Gili dimiliki oleh orang pulau ini.
Tokoh-tokoh masyarakat juga berasal dari pulau ini, sebagian yang punya usaha di Gili Trawangan dan Gili Meno juga berasal dari Gili Air.
Pusat administrasi untuk wilayah 3 Gili yang tergabung menjadi satu wilayah desa yaitu Desa GILI INDAH juga berlokasi di Gili Air terdapat kantor desa dan membawahi setiap Kadus yang memimpin setiap Gili.
Dermaga Gili Air
Dalam setiap pemilihan kepala desa maupun Kadus nuansa Ivorian sangat kental karena untuk berkuasa menjadi Kadus di Gili terutama Gili Trawangan bagaikan pemilihan tingkat kecamatan.
Karena untuk menjadi penguasa otoritas Gili Trawangan bagaikan memperebut kan lahan subur.
Income dari 3 Gili sangat besar terutama Gili Trawangan. Di mana setiap hotel-hotel berbintang maupun sekelas bungalo adalah lahan yang bisa diharapkan untuk berkontribusi sebagai partner untuk menjadikan Gili semakin banyak pengunjung dan imbas dari semua itu pastilah Ceperan yang menjanjikan.
Pesisir barat pulau Gili Air
Dari setiap retribusi akan dikelola oleh Kadus dan menjadi orang berpengaruh di Gili, tentu sangat menjanjikan dan memiliki otoritas untuk mengatur dan memberi izin dari setiap keputusan.
Pulau Gili Air juga memiliki taman laut yang lebih bagus di antara Gili yang lainnya. Terbukti dari setiap Trip snorkeling selalu destinasinya hingga ke pulau ini.
Memiliki lokasi colorful fish untuk para tamu yang bersenorkeling bisa melakukan feeding fish atau memberi makan ikan dengan cara disuapi oleh para pengunjung.
Gili Air Berbenah
Sisi timur pulau Gili Air
Saat ini sudah mulai berbenah diri dengan meninggalkan ego lama hingga sudah mulai banyak pembangunan fisik berupa bangunan akomodasi penginapan dan hotel dan restoran.
Tipikal pulau ini sangat mirip dengan Gili Trawangan yang dikelilingi pasir putih dan ada beberapa juga pasir yang berwarna hitam pada bagian sisi utara pulau ini.
Di sisi utara pulau hanya yang membedakan Gili Air tidak ada bukit seperti Gili Trawangan, disisi barat pulau Gili Air matahari tenggelam di belakang bukit Gili Trawangan sementara di Gili Trawangan matahari terbenam dibalik gunung Agung di Bali.
Sisi selatan pulau Gili Air
Fasilitas kesehatan juga sudah tampak beberapa klinik pribadi juga ada beberapa dokter muda yang siap siaga membantu dalam hal pengobatan untuk masyarakat sekitar dan untuk para wisatawan asing yang secara kebetulan membutuhkan pertolongan medis.
Untuk biaya perawatan dan pengobatan lebih mahal dibanding di klinik yang berada di kota Mataram karena untuk mendirikan bangunan atau menyewa lokasi praktik sangat mahal juga, maklum kan hidup di pulau segala sesuatu harus dibawa dengan transport Boat dan lain sebagainya.
Suasana Lingkungan Gili Air
Kurang lebih suasana di hampir sama dengan di Gili Trawangan juga di Gili Meno, suasana pesisir sama sama berpasir putih, ruas jalan juga terdapat bangunan hotel untuk sisi bagian dalamnya dan sisi bagian pantai terdapat restoran yang langsung menghadap pantai.
Sejak bulan Maret 2017 semua bangunan di pinggir pantai harus dibongkar karena sangat mengganggu dari segi estetika. Lahan pantai menjadi lahan milik pribadi atau menjadi lahan milik restoran.
Setiap wisatawan yang duduk di pinggir pantai merasa tidak nyaman dan risih bahkan pelayan restoran akan datang menghampiri menawarkan menu makanan dan minuman.
Bermain atau sewa kano Gili Trawangan tidak terlalu reguler kita melihatnya hanya beberapa kali saja orang melintas menggunakan kano entah karena apa tapi biasanya kegiatan ini sering terlihat saat kondisi air laut pas lagi tenang, apa mungkin karena alasan itu sehingga jarang orang bermain kano di Gili Trawangan.
Pernah juga mendengar dari wisatawan katanya harga sewa terlalu mahal. Ada dua kano yang umum kita lihat yaitu kano untuk tunggal dan kano untuk ganda difasilitasi dengan dayung dan lift jaket atau jaket pelampung biaya sewa dihitung per jam.
Puddle board yang disewakan di Gili Trawangan Rp 250.000 / jam termasuk lift jacket
Tapi yang pasti lokasi untuk spot bermain kanao Gili Trawangan bisa anda dapatkan di sekitar lokasi tempat penangkaran penyu atau di depan Oda Cafe yang terdapat di sebelah pesisir timur bagian utara pulau Gili Trawangan atau sekitar 1 km ke arah utara dari pelabuhan umum.
Di sana ada beberapa buah canoe akan tampak dipajang dengan cara disandarkan di pohon cemara tapi ini terutama yang jenis puddle board sementara kano di geletakkan di pinggir pantai, jika ingin menyewa cukup Anda berdiri di dekat barang pajangan.
Maka akan ada yang datang menyambut Anda karena penjaga kano biasanya bersantai mengamati kanonya dari bawah pohon cemara atau di dalam warung di sekitarnya bahkan tanpa Anda harus datang mendekati kano para penyewa biasanya juga menyapa sambil menawarkan penyewaan.
Tidak ada daftar harga yang dipasang sekilas saya dengar untuk harga sewa 150.000 / jam, bentuk kano yang umum kita lihat di sini sebagian besar yang menyerupai papan surfing (puddle board)tapi ukurannya sangat besar yang difasilitasi dengan dayung dan jaket pelampung sementara yang bentuk lain juga ada seperti kano pada umumnya.
Nah inilah aksi-aksi para pecinta pantai dengan menggunakan puddle board
Sekilas terlihat kebanyakan para bule-bule yang lebih banyak menyewa dibandingkan dengan wisatawan domestik mungkin orang Indonesia kebanyakan takut kulitnya jadi hitam kali ya ?
Bule-bule sangat menikmati permainan ini mereka lebih sering terlihat berdiri cara memakainya sambil mendayung ke tengah beri-ringan terutama yang terlihat transparan para cewek bule-bule berdiri di atas board mengenakan pakaian bikini sambil mendayung dan terlihat samar.
Ada seutas tali yang dikaitkan di pergelangan kaki agar saat terlepas ketika board terbalik atau terjatuh tidak jauh berlari karena tali sudah diikatkan di pergelangan kaki, harga juga bisa berubah jika musim kunjungan sepi nah kalau masalah ini silahkan saja nanti anda tawar-tawar harganya ya.
Pantai Areguling tergolong baru dikenal bahkan banyak orang Lombok yang tidak tahu keberadaannya. sebelum jauh kita bicara tentang pantai ini mari simak cerita awal kami bisa pada akhirnya berkunjung ke tempat ini bersama team “Ngelamang” untuk membuktikan keindahan pantai Areguling.
Beberapa tahun yang lalu saat saya berkeinginan untuk menyusuri pantai yang berada di pulau Lombok bagian selatan terutama tujuan saya ingin mencari tahu objek-objek pantai yang ada antara Pantai Kuta dan pantai Selong Belanak, yang sudah terdaftar dalam benak saya.
Saya harus mengunjungi pantai Mawun yang sudah puluhan tahun saya mendapatkan informasi tentang keindahannya lewat pamphlet atau brosur pariwisata.
Jujur saja saat itu saya belum punya sepeda motor maklumlah saat itu kalau mau punya sepeda motor harus beli cash atau beli tanpa kredit, saat itu hampir semua masyarakat sulit untuk memiliki sepeda motor jika tidak di bantu oleh pembiayaan melalui kredit atau “finance”. OK, sepertinya ini curahan saya ingin punya motor saat itu.
Mau foto sembarangan di mana saja bisa bagus
Setelah saya bisa punya sepeda motor seperti orang pada umumnya, dengan cara kredit sepertinya rasa penasaran saya akan terjawab.
Semua jalur-jalur yang baru dibuka saya telusuri tidak terkecuali jalur yang dari arah pantai Kuta menuju pantai Selong Belanak, pertama kalinya saat itu saya gagal karena ada perbaikan ruas jalan dari arah pantai Kuta menuju pantai Selong Belanak.
Saya melihat ada beberapa alat berat (Excavator) di atas bukit sedang mengeruk tanah, saya pun tidak bisa melintas karena badan jalan terdiri dari tanah berdebu dan ada beberapa tumpukan tanah galian yang belum diratakan dan akhirnya saya pun kembali berbelok ke arah pantai Kuta.
Sepupu saya yang saya bonceng enggan juga mau melanjutkan perjalanan karena kondisi medan yang tidak mendukung, meskipun motor yang kami gunakan berkekuatan Cc besar dengan tipe P220 seingat saya itu pada tahun 2012.
Perjalanan kami selalu mengasyikkan hingga jarak kami lupakan
Setahun kemudian saya mencoba lagi untuk melintasi jalur yang saya maksudkan, tapi kali ini saya masuk melalui jalur desa Penujak persis setelah pasar Penujak kira-kira 100 meter ada jembatan dengan model kerangka baja Australia.
Ada jalur ke arah kanan juga ada petunjuk jalan milik departemen Perhubungan dengan anak panah bertuliskan “Selong Belanak.”
Karena petunjuk ini terlalu sering saya lihat saat pergi menghantar wisatawan ke arah pantai Kuta. Jalur ini dulunya jalur utama menuju pantai Kuta sebelum ada akses jalan pendukung menuju arah bandara Internasional Lombok, saya katakan untuk orang yang baru-baru ini mengunjungi pantai Kuta kemungkinan jalur ini akan asing baginya.
Sisi keindahan yang tersembunyi dari lorong tebing berbatu
Dari desa Penujak masuk ke arah pantai Selong Belanak waktu itu masih didominasi oleh pemandangan tanaman Jagung atau tanaman tembakau.
Kondisi jalan beraspal bagus tapi bergelombang karena di bawah badan jalan terdapat tanah liat hingga terjadi pergeseran struktur tanah, saya-pun tidak berani ngebut karena motor yang saya kendarai melompat-lompat, tapi tidak semua ruas jalan seperti itu hanya ada beberapa km saja (kira-kira 2 km)
Kondisi jalan pun turun naik tapi lebih cenderung banyak naiknya karena kita akan menuju bukit yang tampak di daratan pulau Lombok bagian selatan jika cuaca cerah.
Di sepanjang jalan tidak ada tampak rumah makan apalagi restoran, tidak seperti 2 hari yang lalu tanggal 15 Oktober 2017 kami dengan team explore sempat mampir di Bakso Rudal dan di sebelahnya ada rumah makan sederhana dengan menu agak modern.
Kalau item lebih kelihatan lakinya, Stop editing foto !!!
Sudah ada sedikit perubahan di jalur ini seiring waktu sesuai : Tuntutan, Kebutuhan dan Prospek akan mempengaruhi gerak perekonomian setempat.
Rumah-rumah pun sudah banyak tampak dengan konstruksi dinding batu-bata, kios-kios kecil, bengkel motor pun sudah ada di beberapa tempat bisa kita lihat di pinggir jalan.
Kembali ke cerita awal hingga saya sampai mendekati pantai Selong Belanak hingga di pertigaan jalan jika ke arah kanan akan menuju pantai Selong Belanak dan jika berbelok ke arah kiri akan menuju ke arah beberapa pantai yang menjadi destinasi wisata.
Di antaranya: pantai Mawi, pantai Semeti, pantai Mawun, pantai Areguling dan hingga ke pantai Kuta. Waktu itu saya hanya taunya ingin menuju pantai Mawun dan waktu itu saya sempat mengunjunginya.
Rasanya enggan untuk melanjutkan perjalanan maunya fotoan terus
Setelah beberapa kali saya melintas di ruas jalan ini, waktu itu tampak ada jalur ke atas bukit yang baru di buka tapi saat itu saya tidak berminat untuk mengunjunginya karena masih berbentuk jalan tanah dengan kondisi basah.
Saat itu baru habis gerimis dan tampak terlihat licin dan ada beberapa bengkahan tanah belum dibersihkan.
Setelah beberapa kali melintas lagi ada petunjuk arah bertuliskan pantai Areguling dengan tanda panah tapi belum diaspal, dalam pikiran saya suatu saat saya harus explore ke arah sana (pantai Areguling).
Saat itu saya bersama wisatawan dan saya jadi guide-nya, hingga lokasi ini pertama kali saya lihat di posting di Facebook, yang memposting tidak berteman dengan saya tapi salah satu teman saya ditag dan muncul di beranda salah satu teman ku tapi saya sudah lupa nama pertemanan saya yang ditag karena saya fokus dengan memperhatikan gambar gambar pantai Areguling.
Saking senangnya salah satu My Team katanya dia melihat bidadari melambaikan tangan di atas tebing
Hingga pada hari Minggu 15 Oktober 2017 saya mengajak teman-teman NGELAMANG TRIP untuk datang ke lokasi ini pantai Areguling, sebelumnya saya sudah searching di google map dan mendapatkan dua jalur alternatif.
Via jalur Penujak atau via jalur Tanak Awu depan bandara Internasional Lombok, untuk rute terdekat ditunjukkan dengan jalur Tanak Awu melalui perkampungan sama seperti-halnya dengan jalur Penujak tapi yang pasti pemandangannya beda, saya lebih memilih jalur dua-duanya biar ada pengetahuan juga buat My Team.
Jalur pertama kami masuk melalui jalur Penujak dengan kata lain jalur utama menuju pantai Selong Belanak hingga sampai di pantai Areguling kami pun sama-sama baru pertama masuk ke wilayah ini.
Dari jalur utama naik ke atas dengan kondisi jalan aspal yang cukup bagus yang dulunya cuma jalan tanah sempit, setelah sampai di atas ada juga beberapa penduduk bermukim di atas, hingga aspal terpotong di perkampungan tidak sampai di pinggir pantai Areguling dan menyusuri jalur tanah.
Kata salah satu My Team, enggan untuk beranjak pulang sayang waktu tidak bisa diputar seperti Jam alarm
Setelah masuk di kawasan pantai Areguling saya agak sedikit bingung mau saya bawa ke arah mana dulu My Team, ke arah kiri atau ke arah kanan naik ke bukit di mana ada tampak aktivitas terjun paralayang.
Saya pilih ke kiri saja sesuai insting untuk menuju batu tebing yang diposting di Facebook dulu itu, kalau lurus ke pantai ada terlihat tempat parkir mobil dan motor juga ada tampak Musholla sedang di bangun.
Kalau mau masuk cuma sebentar saja lumayan 1 motor bisa bayar parkir 5,000 x 3 motor yah mendingan belok kiri saja hingga di perkampungan nelayan kami berhenti sejenak untuk mengambil gambar saja, kebetulan yang tampak ada Gili atau pulau yang cukup besar dengan kontur berbukit, kata orang itu disebut Gili Nusa dan tidak terlalu jauh dari bibir pantai, kira-kira 50 meter.
Sambil merenungi nasib menjadi seorang jomblo, di lokasi ini sangat tersasa pedihnya
Kami pun mengambil foto ke 2 arah kiri dan kanan, objeknya sama-sama pemandangan tebing dan setelah beberapa kali cekrek-cekrek begitu saya lihat bawah ke arah pijak kan kaki salah satu teman saya sedang menambang pasir.
Katanya buat ditaruh di dasar aquarium katanya sambil memasukkan butiran pasir ke dalam botol air minum kemasan 1500 ml, pasir nya cukup unik seperti di Mandalika Resort atau di beberapa pantai lainnya seperti di pantai Tanjung Aan, pantai Seger, pantai Semeti, pantai Mawi dan lain-lainnya karena di pulau Lombok sangat banyak tempat yang memilih bentuk pasir seperti itu.
Bentuknya seperti bundaran merica juga ada yang hampir sama dengan butiran merica (bervariasi) kemudian setelah minum-minum air kemasan kami pun sudah terasa segar kembali dan kita lanjutkan menuju tebing yang kita maksudkan.
Saat itu tampak ada 3 orang cewek-cewek berkendara sepeda motor menuju ke arah yang akan kita tuju, kita sama-sama ber-iringan tapi mereka tidak menyusuri pantai hanya cuma mengambil gambar.
Beberapa menit kemudian kembali, kami pun sudah tidak sabaran ingin meraup kamera hand phone sebelum parkir di bawah pohon, kami pun tidak menyangka ternyata pohon ini sangat bagus untuk objek foto dan kami pun langsung beraksi.
Mendung tak berarti Hujan, alhamdulillah sampai di rumah gak ketemu hujan
Setelah selesai dari berteduh kami pun harus segera berangkat explore menuju pesisir pantai dan untuk keamanan sepeda motor salah satu teman harus siap berkorban menunggu di lokasi tempat kami memarkir motor biar My Team tenang.
Sepertinya kita sulit untuk berjalan cepat menyusuri pantai ini, eeeeiiittt…!!! sebentar dulu ini disebabkan karena terlalu banyak objek yang bagus-bagus buat berfoto jadi sambil jalan sambil fotoan terus dan sampai akhirnya ada kita jumpai gubuk nelayan persis berhadapan dengan Gili Nusa.
Konon Gili Nusa sedang ditawarkan dengan jumlah luas tanah beberapa hektar, yah lokasinya berbentuk bukit cadas sih dan di kejauhan di atas bukit tampak para penambang tradisional.
Cocok juga jika kita lihat warna batu-batu cadas di depan kita seperti warna besi karatan dan warna pasirnya di sini ada yang hitam legam dan ada pasir putih berpilah-pilah, sambil berhenti fotoan terus yah, cukup kami nikmati perjalanan ini.
My Team lihat di Facebook : Iwan Keongracun, Tigor Jeeva, Qirin Rin dan Supardani Dan
Hingga di tempat ke dua kalinya kami menemukan gubuk nelayan dengan jumlah sekitar 5 kepala keluarga.
Perjalanan kami lanjutkan hingga menjumpai batu cadas menjulang tinggi seperti yang Anda lihat pada gambar sampul di atas.
Bentuknya sangat indah dengan warna keputihan, ini yang tidak pernah saya lihat sebelumnya, kami pun sangat betah berada di tempat ini.
Tampaknya air sedang surut mungkin jika air pasang kemungkinan kaki kita akan basah sedengkul tapi sayang waktu sudah tidak memungkinkan untuk berlama-lama di tempat terakhir ini juga kami tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju lokasi selanjutnya dan akhirnya, mari pulang marilah pulang, bersama-sama dan akhirnya sekitar pukul 18:00 kami sampai di rumah masing-masing.
Dari Gerbang Wisata ke pantai Areguling 1 j 18 mnt (51 km)