Saya Supardani lahir dan besar di Lombok, pariwisata bukan dasar pendidikan saya tapi pariwisata mendidik saya untuk terlibat menjadi bagian dari pelaku pariwisata. Pariwisata adalah sesuatu yang menyenangkan. Lahir di Mataram 10 Oktober 1973 tidak pernah belajar tentang pariwisata secara akdemis tapi tanpa belajar pariwisata mengajarkan saya secara otodidak. Pasti akan banyak kekurangan.
Tamat belajar hanya sampai tingkat SLTA, tamatan STMN Mataram jurusan bangunan dan pernah bekerja lama di bidang konstruksi. Akhirnya takluk untuk menjadi pelaku pariwisata. Pernah menjadi tour guide hanya bermodalkan bahasa Inggris pas-pasan, dari sinilah saya mengenal pariwisata lebih dekat dan hingga kini saya sudah banyak menulis blog tentang pariwisata, tentunya masih banyak kekurangan, berinovasi terus agar bisa melayani semakin baik kedepannya.
Desa tradisional di Lombok dijadikan tempat objek wisata yang terletak di daerah daerah tertentu yang berlokasi terpisah di setiap kecamatan dan kabupaten tapi tidak berlaku untuk semua desa, hanya desa desa tertentu yang memiliki nila tradisional yang sangat kuat yang mencerminkan gaya hidup, Tradisi, kesenian dan kerajinan.
Seorang wisatawan asing sedang menunjukkan hasil jepretannya
Para wisatawan yang datang ke pulau Lombok tidak semata ingin melihat panorama alam dan fasilitas hotel tempat menginap saja melainkan ingin mengenal betul secara kultur budaya Lombok itu seperti apa dan bagaimana gaya hidup keseharian orang orang lombok.
Termasuk bentuk rumah adat dan adat istiadat dalam kehidupan bermasyarakat termasuk juga kuliner khas Lombok itu mesti harus tau juga kan ?
Lombok yang merupakan suku Sasak yang memiliki bahasa daerah sama namun bervariasi dalam logat dari tempat tempat tertentu yaitu bahasa sasak yang ber-intonasi agak tinggi di bagian-bagian daerah tertentu, ber-intonasi datar, sedang dan yang pasti tidak ada intonasi lembut dalam bahasa sasak bukan berarti orang sasak kasar atau orang sasak itu tidak lembut.
Desa Tradisional Di Lombok
Tapi yang saya maksudkan ciri khas bahasa sasak itu seperti demikian dalam keseharian seperti-halnya di tempat lain Suku sasak yang memiliki pulau yang lebih kecil dari pulau Bali ini memiliki kekayaan kearifan lokal yang unik suatu saat jika ke lombok bisa anda tanyakan ke guide mengenai apa saja yang untuk di lombok dalam hal ini tidak saya bahas karena sudah saya jelaskan di sesi lain.
Dalam bahasa sasak ada beberapa kata-kata istilah yang tidak sama penyebutan dan intonasi yang terkadang orang lombok bagian tertentu tidak saling mengerti arti dari pengucapan masing-masing sehingga sering terjadi walaupun sama-sama berasal dari Lombok atau orang suku sasak.
Terkadang mereka lebih baik menggunakan bahasa nasional karena lebih gampang berkomunikasi nya adapun desa tradisional yang dijadikan tempat objek wisata yaitu ; desa Bayan, desa Segenter, desa Duman, desa Banyumulek, desa Sukarara, Desa Rambitan, desa Sade, desa Ende Desa Akar-akar dan desa Sapit.
Desa Tetebatu merupakan desa terpencil di bawah lereng kaki gunung Rinjani bagian selatan yang merupakan objek wisata bagi yang hendak mencari ketenangan pikiran, setelah melepaskan diri dari kesibukan kerajaan di kota.
Maka segala beban pikiran Anda akan menjadi gembos setelah melihat pemandangan sawah petani yang bertumpang – tumpang tapi tidak seperti-halnya di lereng yang tajam.
Lahan pertanian dibasahi air bening yang berhamburan dari segala penjuru, para petani yang lagi sibuk di sawah dengan gaya hidup yang sederhana, desiran angin dan suara burung berkicau.
Di sini terdapat bungalo-bungalo dengan konsep pemandangan sawah dan puncak gunung Rinjani di kala langit cerah terutama setelah selesai hujan, jumlah bungalo pun tidak terlalu banyak jumlahnya.
Dari tempat ini Anda bisa mengunjungi 3 air terjun jika hiking mengelilingi desa dengan berjalan menelusuri pematang persawahan berjalan berjam-jam sambil melihat-lihat pemandangan alam, perkebunan dan melintasi beberapa desa.
Sumber image rinjanitrek-lombk.com
Penduduknya petani penggarap yang setiap saat menyapa dengan senyum bahkan yang lain akan melihat dengan wajah bengong dan malu untuk bertegur sapa artinya bukan karena mereka sombong atau tidak sopan terhadap Anda.
Tapi mereka sungkan untuk menjadikan Anda teman yang bergaya ke kota an atau metropolis sudah pasti malam hari Anda akan ditemani keheningan.
Sumber image travel.kompas.com
Desa ini sudah merupakan ujung dari keramaian karena rumah-rumah para penduduk yang mayoritas petani terletak berkelompok-kelompok kecil dan berjauhan di tengah persawahan.
Selain hamparan sawah yang luas juga merupakan kebun-kebun kopi dan cengkeh serta vanili menghiasi sudut sudut desa dari kejauhan merupakan hutan lindung kawasan gunung Rinjani yang sangat lebat dengan pepohonan.
Sumber image travel.detik.com
Tetebatu merupakan desa yang terletak di jantung pulau Lombok bagian selatan dari lereng gunung Rinjani yang masuk dalam wilayah kabupaten Lombok timur kecamatan Sikur.
Jika ingin datang ke lokasi ini cukup mengambil jalur utama jalan provinsi ke arah timur jika Anda berada di kota Mataram lalu sebelum sampai di kecamatan Masbagik di perempatan Paok Motong Anda belok kiri dengan menyusuri jalan aspal.
Sumber image wego.co.id
Jalan aspal yang tidak terlalu lebar hingga Anda akan menemukan simpang empat jalan di desa Kuta raja, jika berbelok ke arah kanan Anda akan ke desa Lendang Nangka dan kalau ke kiri akan ke desa Loyok.
Jika ke lolos menuju desa Tetebatu, dulu jalan aspal hingga sampai di Wisma Sujono tapi saat ini sudah ada jalan ke arah utara lagi sebagai kelanjutan jalan aspal Tetebatu menuju desa selanjutnya.
Tempat kerajinan ketak dan rotan di Lobok Tengah, Mengenai tempat ini saya sungguh penasaran dan terobsesi ingin melihat secara langsung tempat kerajinan rotan yang dimaksud.
tas yang terbuat dari bahan serat rotan buatan Beleke
Ingin melihat proses pembuatan  dan desain yang dihasilkan oleh pengrajin desa Beleke, saya pun menyusuri jalan utama menuju tempat desa Beleke yang dimaksud. saya berharap seperti yang saya jumpai di kecamatan Gunungsari
Saat berkendara begitu melihat isyarat rambu lalulintas menuju desa Beleke lalu saya berbelok menyusuri jalan sambil melihat-lihat sekitar.
Setelah berkendara kira-kira 2 km barulah melihat gerbang penyambutan SELAMAT DATANG DI DESA KERAJINAN ROTAN DAN KETAK BELEKE.
Tapi penyambutan ini terkesan separuh hati karena tulisan banner yang terdapat di gerbang sebagian sudah tertutup ranting pohon. Saya turun dari motor dan memperhatikan secara saksama kata-kata yang tertulis di gerbang.
Dari sini saya sudah merasa pesimis dengan apa yang akan saya lihat nanti, karena logikanya kalau kerajinan desa Beleke memang sering dikunjungi maka gerbang penyambutan ini pasti akan diperhatikan atau ranting pohon yang menutupi tulisan itu akan menjadi masalah besar bagi pengrajin.
Motor pun saya pacu lagi masuk ke desa Beleke dengan kecepatan rendah sudah beberapa tempat saya amati yang menyerupai tempat kerajinan rotan dan ketak ternyata itu bengkel kayu yang membuat kusen pintu dan jendela rumah, yang lainnya bengkel kayu pembuatan al-mari tapi.
tas berbahan ketak dan serat bambu
Saya tetap berharap mungkin di bagian ruas jalan yang lain saya pasti menemukan tempat kerajinan ketak dan pada akhirnya sampai pada pusat keramaian yang merupakan pusat kota desa Beleke.
Sempat melihat seorang ibu yang lagi menganyam rotan yang kelihatannya seperti keranjang tapi saya lolos saja karena saya sudah melihat ciri dan indikasi harapan saya pasti ada menemukan bengkel kerajinan rotan dan ketak.
Lagi-lagi di pinggir jalan hanya didominasi oleh pedagang kelontong dan sampai akhirnya perjalanan saya disambut dengan pemandangan sawah dan ladang, ups…!!! ternyata without nothing mau balik lagi bertanya pada ibu tadi sudah jauh dan hari sudah menjelang petang.
Akhirnya saya pun langsung lolos menuju arah jalan kota Mataram, untuk pulang. dengan harapan pudar, tanpa menghasilkan seperti yang saya harapkan.
Setelah beberapa bulan kemudian hal ini saya ceritakan kepada teman (sopir pariwisata) malah saya mendapatkan informasi yang sebenarnya, dia pernah juga ke lokasi pengrajin yang saya maksudkan.
ternya menurut arahannya, saya melewati jalan kecil ke desa Beleke di perkampungan, kalau di jalan utama Beleke memang tidak ada kegiatan kerajinan. Jadi pengrajin rotan dan ketak yang saya cari berada di dalam kampung melalui lorong jalan tanah yang lebar mungkin saat ini sudah diaspal.
“Bukit Bengkaung,” tidak terlalu banyak yang mengenalnya sekalipun masyarakat kota Mataram banyak yang tidak tahu, padahal bukit ini sangat Tampak jelas dari kota Mataram, bukit Bengkaung  hanya populer bagi segelintir orang saja.
September 2025 di Resto Bu Rumihi (Puncak Bengkaung)
Bahkan tampak jelas terlihat dari kota Mataram letaknya di desa Lembah sari, kecamatan Batulayar, kabupaten Lombok Barat. Lebih tepatnya lokasi ini disebut Bengkaung Pelolat.
“Lolat artinya Licin, ya sebutan itu mere-presentasi kan keadaan lokasi ini jika saat musim hujan di lokasi ini sangat “Lolat” atau licin.
Tempat ini tidak memiliki akses yang memadai untuk mobil hingga hanya bisa sampai di kaki bukit, kemudian bisa dicapai dengan menggunakan sepeda motor namun harus hati-hati karena medan jalannya sangat mendaki dan badan jalan hanya berupa semen rabat.
Jalan rabat yang lebarnya hanya 1 meter saja dan  bisa licin saat musim hujan tempat ini bisa diakses melalui desa Sandik  atau desa Batu Layar.
Jalan rabat sempit dan menanjak dari arah desa Sandik hanya bisa dilalui kendaraan roda dua tapi kini sudah menjadi jalan aspal
Wacana ke depan kawasan bukit Bengkaung akan dikemas menjadi tujuan objek wisata alam karena dari atas bukit ini menawarkan panorama alam, melihat kota Mataram dari dari atas bukit dan melihat garis pantai beserta warna laut yang biru jika cuaca cerah.
Suasana ini sangat bisa kita nikmati jika kita melakukan kegiatan Hash atau soft trekking hingga nanti akan tembus di sisi barat bukit di wilayah dekat dengan kantor camat Batu Layar di sisi lain sebelum tiba di sisi barat akan kita jumpai banyak villa-villa mewah yang sudah lama di bangun.
“Seperti halnya: villa Image, villa Rara dan lainnya hingga turun di jalan raya  atau jalan utama Ampenan – Senggigi jika jalan sedikit ke kiri 50 meter persis depannya hotel Jayakarta dan ke kanan 100 meter depan nya toko Sasaku (toko Oleh-oleh)
Dari atas bukit Bengkaung para pesepeda MTB sering menunggu matahari terbenam di daratan pulau Bali
Tempat ini menyuguhkan pemandangan yang menawan dengan melihat arah ke bawah lereng ribuan rumah penduduk biasa tampak dari sini serta garis pantai yang meliputi kota Ampenan serta ex-bandara lama yaitu bandara Selaparang yang sekarang sudah dipindahkan ke Tanak Awu  Lombok Tengah dekat dengan kota Praya.
Selain itu ada beberapa pemandangan bukit dengan jurang yang sangat dalam dan tampak pohon-pohon kelapa berjejer di atas bukit, selain itu di lokasi ini banyak pohon durian tapi terdapat pada lembah, tidak terlihat dari jalan rabat ini, ada beberapa yang terlihat di bagian arah yang menuju ke jalur Batulayar.
Jika di jalan lintas Ampenan – Senggigi ada banyak penjual durian, yang pasti durian itu berasal dari Dusun Bengkaung atau dusun Seraye. Medan di dusun Bengkaung sangat disukai oleh klub sepeda MTB sekitar kota Mataram selai tanjakan yang tinggi medannya pun sangat menantang kondisi sepeda pun harus diperhitungkan terutama kondisi rem karena turunan sangat curam dan menantang.
Rencana pengembangan lokasi ini menjadi tujuan wisata alam sudah bisa dibuktikan dengan pembuatan jalan aspal hingga hampir mendekati ketinggian bukit.
Ini akan terus dilanjutkan hingga tembus ke jalan utama Ampenan – Senggigi, selain itu disisi lain di ujung jalan yang satunya sudah selesai pengaspalan.
Hingga kedua ujung jalan ini akan bertemu hanya pemerintah daerah masih membutuhkan dana segar untuk melanjutkan proyek pengaspalan ini.
Bukit Bengkaung sangat dekat dengan awan.
Sudah bisa dibayangkan jika semua ini terlaksana sesuai rencana akan sangat antusias masyarakat kota Mataram untuk mengunjungi lokasi ini.
Terutama para pencinta olahraga sepeda MTB atau lainnya, termasuk juga pak gubernur kami Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A atau yang lebih akrab disapa TGB (Tuan Guru Bajang)
Sebagai penggagas proyek ini akan sangat mendukung agar segera terealisasi secepat nya.
Beliau sudah sangat sering melintasi lokasi ini dengan sepeda yang dimilikinya beserta rombongan pengawal dan rekanan sesama pencinta sepeda.
Proses pengerjaan jalan aspal di atas bukit Bengkaung, dari desa Sandik menuju jalur utama Ampenan – Senggigi
“Saat ini, bulan Juli 2018 saya mendapatkan informasi dari teman di grup WhatsApp bahwa di lokasi ini sedang ada proses pengerjaan jalan atau sedang pengeprasan tebing dan penimbunan badan jalan untuk diaspal.
Artinya saya akan meluruskan keadaan sebelumnya menjadi keadaan yang sekarang.
Di mana sesuai apa yang sudah saya ulas di atas kini sudah berubah bahwasanya perencanaan pembuatan jalan aspal di atas bukit sedang berlangsung.
Setelah meninjau ke lokasi, kini wajah Bengkaung akan segera berubah, di lokasi ada beberapa alat berat seperti Excavator, Vibrator dan Grader sedang beroperasi untuk pembuatan jalan aspal, yang pasti dum truk pengangkut material banyak yang berlalu-lalang saat ini.
Masih satu jalur dengan Bengkaung Pelolat, lokasi ini disebut “Seraye”
Kontur jalan yang sebelumnya terjal dan tak teratur, naik turun dan sempit kini sedang dibentuk lebih bagus, lebih menekankan kepada kenyamanan berkendaraan tapi yang pasti sudah tidak asri lagi.
Karena setelah jalan aspal ini sudah bisa dioperasikan maka yang akan kita dengar banyak suara knalpot kendaraan roda empat dan yang pasti polusi, karena yang selalu saya dengung-kan di sini adalah tempat anti polusi yang sangat asri, dan kini sudah berubah.
Sebelumnya tempat ini sangat tenang dan damai tapi yang pasti nantinya akan menjadi sangat ramai kendaraan yang berlalu-lalang, di sisi lain ada yang diuntungkan dengan pembuatan jalan ini tapi bagi pese-peda MTB menganggap sudah bukan menjadi tempat idola lagi.
Ini adalah wajah terakhir pengaspalan bukit Bengkaung pada tanggal 10 Oktober 2018
Taman wisata Batu Idung bisa dikatakan belum terlalu dikenal oleh masyarakat kota Mataram atau orang Lombok pada umumnya bahkan belum terlalu dikenal oleh sebagian para pelaku pariwisata di Lombok.
Buaian di sebelah barat bukit Batu Idung
Saya sendiri sangat mengidola kan tempat ini karena banyak hal yang bisa disuguh kan dari atas bukit Batu Idung yang masuk dalam wilayah kabupaten Lombok Barat.
Tidak jauh dari kantor bupati Lombok Barat kira-kira 5 km ke arah barat yang masuk dalam wilayah desa Jembatan Kembar kecamatan Gerung.
Letak lokasi ini belum ada tanda pengarah dari jalan raya atau dari jalan utama menuju pelabuhan Lembar dari arah kota Mataram.
Jadi dari perempatan yang tidak jauh dari kantor bupati Lombok Barat kira-kira 2 km ambil jalur ke arah pelabuhan Lembar yang menghubungkan kapal penyeberangan ferry ke pulau Bali.
Ada jalan aspal masuk yang masih menggunakan aspal kekerasan sederhana, terdapat ada warung sederhana di sudut pinggir aliran air irigasi dengan jembatan beton selebar 3 meter.
Leter yang sudah dibangun di puncak Batu Idung
Di situ bisa Anda tanyakan lokasi bukit Batu Idung, kira-kira 700 meter masuk melalui perkampungan penduduk hingga di pinggir sawah kita harus berhenti jika kita menggunakan kendaraan roda empat.
Kemudian Anda harus berjalan melalui jalan rabat beton yang lebarnya hanya 1,5 meter dengan kemiringan 35 derajat, jika kita menggunakan sepeda motor kita bisa naik hingga tempat parkir yang sudah di sediakan di atas dekat lokasi Batu Idung.
Kemudian untuk menuju lokasi Batu yang di maksud tinggal kita berjalan 200 meter sedikit mendaki ke arah utara hingga kita sampai di lokasi ada 2 gazebo besar tempat pengunjung duduk beristirahat.
Ada pedagang minuman dingin dan kue-kue ringan sejenis roti dan sebagainya  hanya 20 meter dari atas batu yang mirip hidung, yang merupakan inti dari objek yang akan kita kunjungi.
Nampak siluet gunung Rinjani di arah Timur Laut dan akan lebih jelas lagi jika saat langit cerah
Selain bisa melihat pesona perbukitan di sisi barat daya pulau Lombok dan hamparan per-sawah-an nan hijau di bawah kaki bukit yang ter-petak-petak persegi secara beraturan.
Tampak juga kota Mataram dengan “Land Mark” Lombok yang berupa bangunan Masjid Islamic Center atau masjid “Hubbul Wathan” yang berlokasi di persimpangan jalan Udayana ke arah utara, Jalan Erlangga ke arah selatan, jalan Pejanggik ke arah timur dan jalan Langko ke arah barat.
Hampir tertutup dengan kaki bukit yang berada di sekitar kecamatan Gerung, gunung Agung pun tak mau kalah menampak kan kepongahannya dari pulau sebelah (Bali) seakan menantang kegagahan gunung Rinjani di daratan pulau Lombok terutama saat langit cerah.
Gunung Agung tampak jelas dengan siluet berwarna abu tebal, pesona yang menakjubkan ini terutama bisa kita rasakan pada saat matahari terbit atau pada saat matahari terbenam, bagi penyuka fotografi sangat saya rekomendasi-kan.
Lokasi ini juga sering digunakan oleh para penggemar olahraga para layang, selain itu beberapa televisi nasional pernah datang untuk meliput di lokasi ini.
Tempat bersantai yang asik sambil menunggu matahari terbenam
Tidak hanya itu saja pelabuhan Ferry (Lembar) yang menghubungkan pulau Bali dan Lombok tampak mengintai keberadaan kita yang ada di atas bukit Batu Idung.
Terlihat kapal-kapal ferry berjejer tak beraturan berlabuh di teluk Lembar, garis pantai yang membatasi warna birunya laut dan hijaunya persawahan, di belakang pun masih tampak perkampungan yang terlihat seakan terpimpin oleh kubah masjid.
Jauh di seberang sana tampak 3 pulau tujuan wisata: Gili Nanggu, Gili Tangkong dan Gili Sudak tampak iri karena merasa akan ter-saingi oleh wisata bukit Batu Idung.
puncak bukit Batu Idung
Bila berada di lokasi ini semua momen waktu ingin kita coba untuk kita kunjungi bukit Batu Idung karena waktu tertentu akan membawa rona-rona tersendiri bila kita berada di lokasi ini.
Para pencinta olahraga sepeda MTB paling tidak ingin ketinggalan untuk berkunjung ke lokasi ini karena sensasi tanjakan untuk menuju lokasi ini sangat mengundang tantangan namun sangat banyak yang gagal untuk mengayuh sepeda hingga lokasi tempat parkir.
Tanjakan sangat ekstrem atau terlalu tajam dan juga sangat panjang, sebagian besar mereka menenteng sepeda hingga ke lokasi parkir tapi untuk sepeda tidak sulit untuk kita bawa hingga ke lokasi Batu Idung karena sangat bagus untuk kita pampang sebagai simbol penaklukan.
Sungguh tidak sopan kalau saya harus ceritakan tempat ini karena saya sadar para traveler akan sangat jantungan bila membaca kabar tentang lokasi ini karena otak tidak mampu merekam suatu cerita tempat yang indah.
gerbang masuk bukit batu Idung
karena harus segera mengajak mata untuk mengobatinya, mari datang ke bukit Batu Idung terutama warga kota Mataram karena lokasi ini tidak terlalu jauh hanya 20 km saja dari jantung kota Mataram.
Jalur tidak terlalu sulit, cukup Anda ikuti jalur utama ke pelabuhan Lembar, paling ideal datang dengan menggunakan sepeda motor dan hanya berjalan 200 meter ke lokasi dari tempat parkir, 400 meter masuk dari jalan aspal menuju tempat parkir motor.
Yang pasti mobil tidak diperbolehkan naik ke tempat lokasi parkir, informasi terakhir selain harus bayar parkir di lokasi Batu Idung akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp 2.000 / orang. jadi harus bayar parkir dan tiket masuk ya.
Informasi terakhir lokasi bukit batu Idung sudah banyak perubahan dengan adanya papan nama SELAMAT DATANG dengan menggunakan gambar yang saya unggah di blog ini.
Ada beberapa leter BUKIT BATU IDUNG di lokasi dan ada terdapat ayunan yang di atasnya bertuliskan BATU IDUNG SUNSET tentunya di arah barat sisi bukit ini, penasaran ? Saya juga penasaran mau lihat situasi ter kininya setiap saat.