Bagi setiap orang yang tinggal di Lombok sangat tidak sulit bila ingin melihat pantai yang indah dengan tujuan tertentu, apakah hanya sekedar ingin membuang kepenatan atau pergi memancing.
Lombok merupakan pulau yang tidak terlalu besar lebih kecil dari pulau Bali yang berdiameter kira kira dari barat ke timur 80 km atau dari utara ke selatan kira-kira 120 km dengan luas 5.435 km / segi.
Bisa diperkirakan bila orang tinggal di Lombok sejauh jauhnya orang bila seseorang hendak melihat pantai atau pergi ke pantai bisa berkendaraan kira-kira sejauh 45 km.
Apalagi bagi orang yang tinggal di kota Mataram untuk menuju pantai tidak perlu menggunakan kendaraan bermotor cukup dengan menggunakan sepeda pancal atau berjalan kaki-pun bisa melihat pantai.
Pantai yang dekat dengan kota Mataram masih kita sayangkan karena karena dekat dengan muara masih sering kita lihat sampah sampah yang menodai pemandangan.
Karena sebagian masyarakat belum terlalu peduli dengan sampah non organik, apalagi saat musim hujan tiba. Ketika debit air sungai menjadi puluhan kali lipat maka sampah sampah yang dicantolkan di pinggir-pinggir sungai yang arah hulu hanyut diseret arus air saat musim hujan ke laut.
Saat-saat ini pemerintah daerah sedang bekerja keras untuk melakukan kampanye tertib sampah dengan membuat larangan-larangan untuk membuang sampah di pinggir kali.
Dengan memperbanyak sumbangan sumbangan bak sampah dan pelayanan tertib sampah gratis, dengan memobilisasi pegawai pegawai kebersihan kota dengan didukung oleh pengadaan pengadaan unit-unit mobil pengangkut sampah dan truk truk pengangkut sampah.
Pembuangan sampah sekarang ini sudah di arahkan ke TPA yang berlokasi di kabupaten Lombok Barat yang tidak jauh dari wilayah gunung Pengsong.
Setidaknya saat ini walaupun masih bisa kita melihat sampah plastik di pantai namun tidak sampai terlalu parah apalagi setelah disadari bahwa Lombok merupakan destinasi pariwisata dunia.
Sedikit mempengaruhi budaya tertib sampah karena kebiasaan orang asing sangat peduli ketimbang orang yang tinggal di dekat pantai ini sudah merupakan proses mengubah karakter bangsa.
Pantai yang indah dan bersih menjadi impian kami, saya sangat berharap pembaca blog ini bisa sadar dan bisa tertib untuk mengenali sampahnya. Agama tidak berperan memberikan sosialisasi tentang sampah di laut.
Agama islam terutama menyebutkan tentangmenjaga kebersihan, “Annazopatu minal iman” Kebersihan sebagian dari iman. Ternyata ini hanya slogan saja tapi tidak meresap sampai ke hati sanubari.
Pengertian ayat tersebut masih bias tidak disebut secara spesifik dan tidak ada dibahas tentang kebersihan pantai, mungkin orang menganggap agama menyuruh rajin – rajin mandi dan berdandan bukan menjaga kebersihan Pantai yang indah di pulau Lombok atau di mana saja.
Bukit Merese, arti kata Merese dalam bahasa sasak kata dasarnya adalah “meres (kb)” yang artinya : enak, mantap, nikmat, lezat.
Kata meres itu sendiri adalah bahasa suku Sasak bagian Lombok selatan karena di Lombok mempunyai bagian-bagian pengucapan dalam penyebutan atau perbedaan kata dengan arti yang sama.
Di bagian Lombok lainnya menggunakan kata lain yaitu “maik.” berarti lokasi yang dimaksudkan ini tepat dinamakan “Merese (kt)” karena berada secara geografis di Lombok bagian selatan tepatnya sebelah timur pantai Kuta yang masuk dalam kawasan Mandalika resort.
Dasar pantai teluk Tanjung Aan terlihat bagaikan Blue Safir dari atas bukit Merese
Yang aneh dari lokasi ini adalah lokasi wisata yang sangat indah tapi seakan-akan baru dikenal, mengingat pantai Kuta, pantai Seger dan pantai tanjung Aan sudah jauh lebih populer.
Walaupun lokasi ini masih dalam lingkup “Mandalika Resort” jika Anda pernah ke Tanjung Aan letak lokasi ini sering kita lihat dari kejauhan.
Seperti Apa Bukit Merese
Merupakan bukit cadas hijau yang mengapit teluk Tanjung Aan di bagian barat atau sisi kanan, ketika kita berada di tanjung Aan tapi kita tidak pernah ter-pikirkan bahwa di atas sana ada objek wisata yang sangat indah.
Sisi lain dari Bukit Merese
Sejak bertahun tahun Tanjung Aan dijadikan destinasi objek wisata oleh para travel agent baru-baru ini Bukit Merese menjadi sorotan para traveler alasannya kenapa tidak dari dulu ?
Mungkin para wisatawan yang ke Tanjung Aan adalah bagian dari destinasi kunjungan terakhir, jika guide ingin mengajak para pengunjung naik ke bukit akan banyak kehilangan waktu.
Sehingga tour tidak sesuai dengan schedule itinerary perjalanan yang sudah di tetapkan oleh travel agen karena harus tiba di hotel sekitar jam 5 sore.
Bukit Merese Belum Lama Dikenal
Ini adalah pohon yang paling fenomenal di bukit Merese dan satu satunya pohon di sini “Tapi sekarang sudah tidak ada lagi”
Mengapa baru-baru ini banyak wisatawan yang mengunjungi lokasi ini ? Mungkin setelah era smart phone menjamur banyak orang orang datang ke sini untuk berlibur yang didahului oleh wisatawan dari sekitar an Lombok sendiri.
Lokasi ini sering diposting di Facebook, yang bikin banyak traveler jadi kepoh atau ingin tahu dan memburu lokasi ini.
Jadi menurut saya pribadi sejak kapan bukit Merese populer ? saya akan menjawab sejak menjamurnya orang-orang menggunakan smart phone.
Saya sendiri sudah sejak beberapa tahun sebelumnya mengunjungi tanjung Aan, baru-baru ini saya mengenal lokasi ini setelah 2 tahun memegang smart phone.
Dari bukit Merese tampak pantai Seger dan bisa dibayangkan jika rumput ini hijau pada saat musim hujan
Semua pengunjung harus rela berjalan kaki menuju atas bukit Merese, karena untuk kendaraan roda 2 sepertinya tidak mungkin bisa melayani jalur ini.
Selain kemiringannya curam juga di badan jalan banyak bongkahan batu menonjol, bahkan ada beberapa bongkahan batu lepas. artinya secara kasat mata sangat tidak mungkin untuk dilalui sepeda motor.
Terkecuali bagi yang mau merusak sepeda motor mungkin ya atau bisa menggunakan motor dengan tipe tertentu yang khusus buat off road seperti sejenis “The trekker.
Mendaki Bukit Merese Cukup Melelahkan
Untuk pengunjung yang mengalami obesitas atau sudah lanjut usia tidak saya saran kan mengunjungi lokasi ini karena harus berjalan kaki ke atas bukit yang cukup tinggi.
Kira-kira 50 meter, selain itu tidak ada pepohonan kecuali satu di jalur yang ke arah kanan itu pun tidak terlalu rindang.
Setelah sampai di atas bukit Merese kemudian lihat ke belakang teluk Tanjung Aan tampak indah sekali.
Sebelum sampai di atas bukit sambil melihat ke arah belakang pengunjung sudah bisa melihat keindahan teluk Tanjung Aan dari atas bukit Merese.
Setelah tiba di atas punggung bukit Merese ada dua pilihan berjalan ke arah kanan atau ke arah kiri, yang pasti harus mengunjungi kedua-duanya biar lengkap mengenal bukit Merese.
Jadi jika kita ke arah kiri, pengunjung akan berada di atas bukit dengan view pemandangan pantai Seger dan pantai Kuta, di sebelah barat.
Jika Anda berjalan ke arah kiri, di atas bukit terdiri dari hamparan rumput yang sangat luas, sangat hijau dan subur tapi jika pada musim kemarau rumput-rumput ini akan terlihat kusam bahkan warnanya akan menjadi coklat jika lama sekali tidak pernah turun hujan.
Batu batu yang menonjol dari permukaan rumput cukup menghiasi lokasi
Lokasi ini masih dihiasi batu-batu cadas yang tampak natural menonjol bergerombol menghiasi rimbunan rumput tapi sayang tangan-tangan usil menodai dengan mencoret dan membuat tulisan di atas batu.
Di tengah Safana hijau ini ada satu-satunya pohon tempat Anda bisa berteduh namun sayang daunnya tidak terlalu rimbun buat berteduh menghindari teriknya panas matahari (sekarang sudah tidak ada).
Tempat Berfoto Yang Fantastic
Sering sekali lokasi ini dijadikan background tempat orang-orang berfoto sebagai ciri khas lokasi bukit Merese dan yang pasti di lokasi ini Anda akan bebas dari kejaran para pedagang asongan.
Tapi ada anak anak yang lucu-lucu akan banyak membantu terutama untuk mengambil gambar buat Anda yang datang ke lokasi ini.
Mereka sangat menguasai gadget dan tau teknis fotografi, tapi alangkah senangnya mereka jika diberikan imbalan Rp 5,000 yah hitung-hitung beramallah ya.
Banyak sisi keindahan yang tersaji di sini jika kita sanggup naik lagi ke bukit arah kiri
Setelah puas menjelajah lokasi ini ke berbagai penjuru masih ada lokasi lagi yang saya maksudkan ke arah kiri tadi, memang cukup jauh untuk bertolak ke lokasi yang saya maksudkan sangat terlihat jalur menuju ke atas bukit sangat akan membuang energi.
Merupakan jalan setapak bekas pijakan kaki para pengunjung tapi jangan gentar Anda harus berjuang sedikit biar kunjungan Anda lengkap ke bukit Merese dan saya yakin nafas ngos-ngosan yang Anda keluarkan menuju bukit yang sebelah timur ini.
Pemandangan Dari Atas Bukit
Akan terbayar kan dengan pemandangan eksotis teluk tanjung Aan yang begitu mempesona dengan bentuk lengkung yang dihiasi dengan pesisir pantai pasir putih yang panjang serta daratan yang terlihat hijau dengan rimbunan pohon-pohon kelapa yang tampak samar-samar dari kejauhan.
Bisa dibayangkan jika pada musim hujan rumput di tempat ini akan sangat hijau dan sangat indah
Begitu juga tanjung yang mengapit teluk tanjung Aan bagian sebelah timur namun tidak setinggi bukit Merese terlihat elok yang di ujungnya tampak pantai Batu Payung (sekarang sudah roboh) walaupun tidak terlihat terlalu jelas.
Sisi fisiknya masih tampak batu yang menjulang tinggi dari kejauhan yang di sebut Batu Bayung, tanjung pada bukit Merese yang masih merupakan bukit ini sangat panjang sekali.
Jadi bagi yang suka dengan fotografi bisa menjelajah bukit ini hingga sampai ujung dengan kontur semakin rendah saya yakin banyak sisi-sisi yang bagus untuk fotografi.
Bukit Merese dari Tanjung AanSunset dari atas bukit MereseDi lokasi bukit Merese selalu bawaannya ceria
Batu Payung ? Mungkin tidak perlu kita harus perdebatkan asal kata nama ini karena sederhana saja dilihat dari kata Batu, yang pasti wujud dari objek yang dimaksudkan dan kata Payung mungkin sudah bisa kita sama-sama tebak.
Bentuk batu ini yang menjulang tinggi yang ter kikis bagian bawahnya atau dengan kata lain yang mengalami abrasi dalam jangka waktu yang cukup lama hingga bagian atas batu ini terlihat lebih besar daripada bagian bawah yang menyangga hingga disebut Batu Payung.
Tampak tak seperti payung kan ?
Walaupun sebenarnya tidak persis seperti payung tapi istilah ini lebih gampang digunakan untuk mereferensikan bentuk wujud dari batu ini, selain itu memang batu ini bisa kita gunakan berpayung atau berteduh jika matahari sangat terik.
Menurut pendapat saya kondisi batu ini sangat membahayakan, karena kemungkinan untuk patah sangat mungkin jika dilihat dari wujudnya yang semakin terkikis oleh air sehingga beban atas tidak mampu untuk ditopang lagi oleh bagian bongkol yang sekilas seperti wujud jamur ini.
Batu Payung terlihat samar di ujung tanjung sebelah timur dari atas bukit Merese.
Lokasi ini sebenarnya populer setelah muncul di iklan rokok yang mengambil lokasi shooting di Tanjung Aan yang menampilkan wujud batu yang tampak indah. Sekilas diambil dari kamera drown hingga sekarang tempat ini menjadi incaran para wisatawan domestik, mancanegara dan terutama pengunjung lokal atau asli orang Lombok.
Selain bisa mengakses jalur pesisir untuk menuju lokasi wujud batu payung ini dapat kita lihat juga dari atas bukit Merese atau dari atas bukit sebelah kanan atau sebelah barat yang tampak samar-samar tapi bentuknya masih bisa dikenali.
Alternatif lain bisa menyewa boat ini tanpa harus berjalan kaki menyusuri pesisir pantai yang bertebing
Selain itu juga bisa kita kunjungi dengan menyewa boat di teluk Tanjung Aan dengan sewa seharga Rp 250.000 untuk biaya pulang pergi dengan kapasitas sesuai isi boat yang bisa diperkirakan 10 orang.
Boat atau Perahu nya tidak terlalu besar sih dengan waktu tempuh 10 menit, tidak sulit untuk mendapatkan jasa ini bila Anda berkeliaran dan tampak asing di sekitar Tanjung Aan maka akan ada yang datang menawari jasa penyeberangan ke tempat lokasi Batu Payung.
Batu Payung terletak di balik bukit atau di ujung bukit yang tampak mencorok ke laut
Pantai ini terletak tidak terlalu jauh dari pantai Kuta sekitar 5 km ke arah timur menyusuri pantai dengan jalan aspal yang kondisinya kasar dan lebarnya hanya 3,5 meter dengan urutan melintasi pantai Seger, teluk Tanjung Aan.
Pantai Batu payung tidak tampak dari jalan aspal karena lokasi batu momental tersebut berada di balik bukit cadas, untuk menuju jalur ini tidak ada tanda-tanda di berikan di pinggir jalan.
Dari teluk TanjungAan sudah bisa terlihat Batu Payung di ujung sebelah kiri
Untuk menuju lokasi ini hanya orang-orang sekitar yang bisa kita tanya namun sangat jarang ada orang setempat yang berkelebat, hanya ada ciri-ciri jalan bekas lindasan roda 4 yang memotong lahan kering yang menyerupai jalur menuju ke sebuah gubuk nelayan dan sesekali terdapat umbul-umbul promosi atau iklan hotel.
Di sinilah akan ada pemuda yang menyambut kedatangan Anda seraya sambil menyodorkan tiket parkir Rp 5,000 untuk satu sepeda motor dan Rp 10,000 untuk kendaraan roda 4, dari tempat parkir ini objek Batu Payung tidak tampak hanya kalau kita tanya tukang parkir cuman jawabannya sederhana dengan menunjuk arah pesisir pantai berbatuan dan bertebing cadas, seraya berkata “ke arah sana dekat kok cuman jalan 1,5km”
Batu Payung bisa kita lihat dari atas jika kita datang melintasi bagian atas bukit
Untuk menuju lokasi Batu Payung perlu berhati-hati karena Anda akan melintasi berbatuan cadas yang licin karena pada saat-saat tertentu air pasang dan menyebabkan ada lumut di permukaan batu cadas, kira-kira setelah berjalan 10 menit Anda akan melihat Batu Payung seperti pada gambar.
Selain itu ada jalan alternatif menaiki bukit tapi nanti saat turun akan sedikit sulit harus berputar sedikit tapi ini alternatif lebih baik ketimbang harus membasahi kaki sambil terseret seret menghindari bagian yang licin dan harus hati hati juga karena ada bagian batu cadas yang tajam tergerus ombak.
Tidak ada tempat alternatif lain untuk tempat berteduh jika cuaca sangat terik terkecuali hanya pada bagian batu yang kita kunjungi ini, tidak ada yang istimewa di lokasi ini hanya jika untuk pengambilan gambar sangat terlihat unik karena jarang lho ada batu seperti itu tapi bagi saya wujud ini saya lebih tepat untuk menyebutnya baju cadas yang masih ada unsur tanah yang keras.
Pantai Bangko-Bangko merupakan pantai yang berada di Sekotong barat persisnya pada sebuah daratan di ujung barat bagian selatan yang menyerupai ekor atau kaki gurita pada pulau Lombok tempat ini sudah dikenal oleh orang orang asing yang suka bermain surfing.
Bila hendak mengunjungi lokasi ini dari kota Mataram berjarak 75 km lokasi ini masih berupa daratan pantai yang cukup kering memiliki kontur pantai yang penuh dengan berbatuan cadas dan terdiri dari berbatuan yang berbentuk bulat besar-besar.
Pada bagian pantai yang terkena abrasi dari tempat ini pengunjung bisa melihat daratan pulau Bali dengan jarak yang paling dekat terutama pulau Nusa Penida.
Pantai Pemalikan Bangko-bangko
Sebenarnya Bangko-Bangko bukan tempat persis untuk bermain surfing hanya Bangko-Bangko lebih gampang untuk dikenal oleh orang banyak atau penyebutan Bangko-Bangko lebih populer untuk lokasi pantai tempat bermain surfing.
Bagi para bule bule yang suka dengan surfing yang sebenarnya lokasi bermain surfing itu di bagian sebelah Bangko-Bangko tidak jauh dari situ yaitu di pantai ”Pemalikan” yang kira-kira berjarak 2 km bila jalan berputar.
Perlu saya ingatkan di daerah ini jalan tidak pernah diperbaiki terdiri dari batu-batu lepas yang merupakan konstruksi dasar jalan raya yang tidak jadi dikerjakan atau di tunda pengerjaannya ini sudah berlangsung cukup lama hingga sekarang ada beberapa orang yang tinggal di tempat ini.
Sempat saya tanyakan kenapa sampai hal tersebut bisa terjadi seperti demikian menurut keterangannya disimpulkan karena area pantai Bangko-Bangko merupakan tanah yang bersengketa antara pemda dan masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Bangko-Bangko.
Kasus saling klaim tentang kepemilikan lahan-lahan di daerah pantai Bangko-Bangko karena pemda sendiri ingin mengembangkan daerah kawasan Bangko-Bangko dan Pemalikan untuk dijadikan daerah tujuan wisata.
Masyarakat yang mengklaim lahan-lahan ini tidak mau menerima kompensasi pembayaran yang di anggap terlalu murah selain itu masyarakat sudah paham jika tanah sudah akan di bentuk untuk tujuan wisata akan menjadi sangat bernilai tinggi.
Beberapa kali pemda mencoba untuk menggunakan kekuatan Pol. PP tidak berhasil mengeluarkan solusi hanya berujung bentrok dengan aparat maka dari itu jalan yang menuju ke lokasi ini sangat tidak bersahabat.
Pada bagian bagian tertentu ada beberapa tanjakan yang curam dan berbahaya terutama bila menggunakan sepeda motor karena tanjakan terdiri dari batu-batu lepas dan berlubang akibat gerusan aliran air hujan.
Bila Anda tiba di Pemalikan setelah melewati jalan yang rusak dan badan jalan terlihat sempit karena semak-semak melebar ke bahu jalan Anda akan menemukan gubuk gubuk yang juga merupakan restoran sederhana.
Di sini Anda bisa membeli minuman kelapa muda tentu dengan harga yang cukup mahal karena sepertinya mereka mendatangkannya dari tempat yang agak jauh karena di sini tidak ada Tampak pohon kelapa.
Selain itu bisa juga Anda memesan makanan dengan menu pilihan yang sangat terbatas, sambil makan sambil menikmati gulungan ombak dan juga para bule-bule yang lagi main surfing tidak jarang di antara mereka yang punggungnya memar mengeluarkan darah.
Ada yang betisnya berdarah juga, mungkin di pantai banyak karang, pantai ini tidak cukup panjang-panjang amat dan pasirnya hitam tapi tidak hitam pekat.
Pantai Ampenan merupakan pantai yang sangat dikenal layaknya orang-orang mengenal pantai Senggigi di Lombok sekarang karena Ampenan pada masa dulu merupakan kota perdagangan terbesar di pulau Lombok saat itu.
Kini bekas sisa-sisa peninggalan kota Ampenan masih bisa kita lihat di sepanjang ruas jalan utama hingga jalan-jalan masuk penghubung kota Ampenan.
Lokasi wisata warga kota Madya Ampenan
Masih ada terlihat bangunan bangunan tua yang merupakan perumahan orang-orang pedagang dari etnis Tiong Hoa dan beberapa blok bangunan yang di huni oleh pedagang yang berasal dari etnis Arab terutama sangat kental dengan khas dari jualan yang di jajakan.
Yaitu terdapat top-les yang di isi beraneka macam jenis kurma, di lokasi pantai terdapat kilang-kilang minyak di pesisir pantai Ampenan yang merupakan tempat pasokan minyak untuk di distribusikan ke seluruh kota provinsi di NTB.
Terdapat halaman tempat bermain sambil ber olahraga
Di pantai Ampenan sering terlihat kapal-kapal Tanker pengangkut minyak yang datang dari lepas pantai berlabuh untuk beberapa saat selain itu di sekitar daerah bekas pelabuhan ini sudah dibangun taman kota sebagai tempat bersantai warga kota Mataram pada saat sore atau pada saat saat hari libur.
Di sekitar taman sudah terdapat tanggul besar penahan gelombang dan di atas tanggul difungsikan sebagai tempat para pengunjung duduk bersantai sambil menunggu matahari terbenam.
Tampak meja-meja para pedagang kelontong untuk sore hari
Selain itu juga sudah diberikan pekerasan jalan untuk berjalan-jalan santai dengan permukaan jalan diberi pekerasan beton yang permukaannya ditaburi batu sikat yang berwarna-warni hingga kondisi ini terasa nyaman saat berada di pantai.
Bahkan di bagian pojok utara pinggir pantai sudah diberikan tulisan banner setinggi 2 meter bertuliskan AMPENAN. Selain itu juga para pedagang minuman kaleng dan para pedagang kuliner berpartisipasi menghiasi keadaan sekitar tapi harga jualannya sedikit mahal juga.
Anjungan Satu hati bersama replika perahu jika malam akan terbentuk oleh balon lampu listrik
Pantai Ampenan juga masih menyimpan bukti kejayaannya pada masa lampau dengan masih berdirinya sebagian bekas tiang-tiang penyangga dermaga yang berlokasi persis di gerbang laut kota Ampenan pinggir pantai.
Pada masa dulu pelabuhan ini berfungsi sebagai pelabuhan lintas ekonomi antara pulau Bali dan Lombok sebelum pelabuhan Lembar dibangun.
Saat masa dulu ferry berlabuh di pantai Ampenan menuju pelabuhan Padang Bai di Bali kini sisa sisa dari bekas dermaga ini yang masih terlihat adalah tiang tiang bekas penyokong dermaga yang sudah hampir habis termakan karat.
Terdapat lokasi View Point dengan bentuk seperti bangunan ini
Setiap saat disinggahi burung camar saat rehat terbang mencari ikan selain itu juga pada pagi hari, sering juga kita lihat beberapa pemancing ikan duduk di atas tiang dermaga yang sudah hampir tumbang.
Mereka juga sepertinya sudah memberikan papan – yang sudah diikatkan ke tiang tiang bekas dermaga untuk tempat mereka duduk di atasnya. Tidak jarang para pemancing ini kita lihat sedang menarik pancingnya dan mendapatkan ikan yang cukup besar.
Kondisi akhir-akhir ini sudah diberikan relling karena banyak anak kecil yang duduk-duduk di pinggir tanggul
Selain itu pantai Ampenan juga merupakan pantai yang dihuni oleh nelayan – nelayan tradisional yang bermukim di kampung Pondok Prasi dan karang Panas yang sewaktu para nelayan tidak melaut di pantai Ampenan akan dihiasi oleh keberadaan perahu-perahu nelayan berjejer sepanjang pantai di kedua lingkungan tersebut.
Juga saat ini pemerintah kota sudah membenahinya dengan memberikan tanggul-tanggul penahan pasir agar tidak berserakan sembarangan dan di sampingnya sudah di buat jalan yang cukup sekedar untuk bisa berpapasan dua buah mobil.
Di muara sungai sudah diberikan batu-batu beton cor yang berbentuk tiga kerucut dalam satu buah dalam bentuk yang sama semua untuk difungsikan sebagai beton pemecah gelombang.
Sayang sekali keadaan sekarang malah kok seperti pasar tradisional ya
Ampenan saat ini sudah termasuk ke dalam 3 kota besar kecamatan kota madya Mataram yang meliputi kota Mataram , kota Cakranegara dan kota Ampenan merupakan jalur utama lintasan menuju daerah wisata pantai Senggigi, pantai Malimbu, pelabuhan Bangsal yang berlokasi di kabupaten Lombok Utara dan daerah wisata yang terletak di bagian utara pulau Lombok.
Jalur ini sekarang sudah dilebarkan dan memiliki trotoar yang ditata rapi dan sudah terdapat bangunan bangunan mewah yang didominasi oleh bangunan pendukung pariwisata pulau Lombok.