Lokasi pantai Mawun bisa dikatakan berlokasi di antara pantai Kuta dengan pantai Selong belanak di kawasan pantai Lombok selatan yang merupakan rentetan pantai pantai yang cantik dan mempesona.
Tentu yang merupakan kawasan pantai yang berpasir putih yang diapit oleh bukit cadas yang hijau jika terlihat saat musim hujan, sebagian besar pantai nya tertutup oleh bukit bukit cadas.
Teluk mawun dari tampak atas
Sehingga tidak bisa kita lihat jika berkendara antara pantai Kuta menuju pantai Selong Belanak hanya beberapa bidang saja yang tampak tapi sangat relatif sedikit sekali.
Untuk menuju lokasi ini bisa mengambil jalur yang sama saat menuju pantai Selong Belanak jika sudah tahu jalannya menuju pantai Selong Belanak dan ini sedikit lebih jauh tapi untuk lebih persisnya dapat Anda lihat petunjuk dari google map.
Kira kira jaraknya sekitar 55 km dengan rute jalan yang tidak begitu datar dengan kontur jalan yang cukup bagus tapi berkelok kelok dan naik turun. jika menggunakan bantuan google map maka Anda akan ditunjukkan untuk sedikit melintas di depan bandara Internasional Lombok.
Teluk mawun berpasir putih
Lalu belok kanan mengikuti jalur aspal. Yang akan berujung pada sebuah pasar tradisional dan berbelok kanan sedikit menuju gerbang pantai Mawun.
Tanda petunjuk arah sangat jelas kita lihat jika Anda sudah tiba di sekitar lokasi karena sudah diberi petunjuk rambu rambu lalu lintas dengan sangat jelas.
Yang pasti jika ada jalan yang menuju ke arah selatan bisa Anda perhatikan tulisan yang ada di sana, jika sudah sampai di lokasi di pintu masuk menuju pantai Anda akan berhadapan dulu dengan penjaga pintu gerbang.
Tentu untuk urusan tiket masuk, untuk satu sepeda motor dikenakan biaya Rp 10.000 dan mobil Rp 20,000 harga sudah tertulis di tiket masuk.
Mawun Lombok selatan
Sesuai dengan nilai yang dibayarkan sepertinya tidak rugi karena sudah ada fasilitas yang sudah dikemas oleh pihak pengelola. Di bibir pantai sudah ada gazebo berjejer buat bersantai juga di sekitar sudah ada toilet.
Bunga-bunga ditata sedikit biar bisa mendongkrak suasana, ada juga bagian yang rindang buat tidur bermalas malas jika Anda membawa tikar. Di sekitar juga ada pedagang makanan ringan, minuman kaleng dan kelapa muda dengan harga Rp 20,000 / buah.
Saya tidak bisa mengukir cerita tentang lokasi ini tapi saya sarankan sebaiknya datang saja berkunjung ke lokasi ini ya. Mungkin sebelumnya bisa di lihat di google dulu rupa bentuk pantainya.
Tapi yang pasti bedalah. Jika kita lihat di gambar dengan kita melihat langsung di lokasi. Secara garis besar pantai ini merupakan teluk yang berada di pantai selatan.
warna air dan pasir teluk Mawun sungguh mempesona
Warna air biru dan hijau. Mungkin yang bagian dangkalnya yang berwarna hijau itu ya, selain itu airnya relatif tenang dan yang pasti pasirnya berwarna putih bersih, bukit yang mengapit teluk ini sangat terlihat indah.
Jika ke lokasi ini bisa juga sambilan mengunjungi pantai lainnya seperti halnya yang masih satu arah yaitu dengan pantai: Selong Belanak, Pantai Mawi, Pantai Semeti, Pantai Areguling, Pantai Tepar dan yang paling ujung timur yaitu Pantai Kuta.
Tentu pilih salah satunya ya. Karena mengingat waktu juga. Semua jalan akan bermuara pada jalan yang tidak jauh dari bandara Internasional Lombok.
Hingga patokan untuk menuju lokasi ini sangat gampang tinggal menuju bandara Lombok lalu tanyakan sama orang orang setempat jalur untuk menuju pantai Mawun tentu alternatifnya ada 3 jalur yang akan ditunjukkan.
Untuk melukiskan dengan kata-kata Pantai Mawi adalah pantai yang tidak kalah indah dengan pantai lainnya yang berjejer di sepanjang pesisir pantai Lombok Selatan yang terukir oleh bongkahan batu-batu lepas.
Bagaikan tersusun rapi di pojok-pojok dinding tebing yang tersapu oleh ombak pantai Mawi, selain itu banyak berbatuan lepas dengan ukuran seperti batu untuk fondasi batu kali yang bertebaran menggantikan posisi pasir putih di bawah tebing sementara pasir putih lebih bersahabat bergaul dengan deburan ombak.
Keunikan pantai Mawi ada bagian berbatuan seperti layaknya di sungai
Di sisi lain dari kejauhan masih terlihat bebatuan bagaikan batu-batu candi yang roboh yang secara terus-menerus terdorong ombak ke arah tepi namun ombak tak kuasa untuk mendorongnya, hanya gulungan ombak terlihat pecah berserakan.
Ombak pun terlihat bertumpang-tumpang menepi mengukir indahnya pantai Mawi dengan air laut yang berwarna biru sungguh ciptaan Tuhan sangat indah, sebuah anugerah yang telah diberikan untuk pulau Lombok.
Pantai Selong Belanak, sebelah barat pantai Mawi dan masih satu desa
Pantai ini masih bertetangga dengan pantai Selong Belanak di sebelah barat hingga bukit yang di tengah lautan di pantai Selong Belanak masih bisa kita lihat dari pantai Mawi.
Di sebelah timur ada pantai Semeti sangat dekat sekali hanya terpisahkan oleh tebing yang mencorok ke lautan.
Akses antara 3 pantai tersebut masih bisa di tempuh dengan kendaraan sepeda motor, menggunakan mobil juga bisa tapi tidak saya sarankan karena medannya sangat berat apalagi setelah medannya terkena guyuran air hujan maka jalan akan menjadi sangat licin sekali hingga kendaraan roda empat sering terjebak dan terlihat berusaha untuk keluar dari medan ini bagaikan belut di atas lumpur.
Pantai Semeti tidak jauh dari pantai Mawi hanya kisaran 1 km sebelah kiri akses masuk dengan gerbang yang sama
Pantai Mawi tidak begitu dikenal oleh wisatawan lokal karena Kurangnya informasi dan tidak ada travel agen yang menjual paket tour ke lokasi ini hanya banyak blogger-blogger asing yang suka surfing menulis tentang lokasi ini hingga lokasi ini tidak asing bagi mereka apalagi dari jalan utama untuk menuju lokasi ini sangat transparan tertulis hal-hal yang berkaitan dengan surfing atau berselancar.
Di pantai Mawi belum ada akomodasi penginapan yang di bangun hanya ada semacam warung berdinding anyaman Bambu yang menjual sejenis minuman kaleng, jus dan minuman kelapa muda yang ada di lokasi pantai kebanyakan para tamu bule (surfer) berdatangan dari arah kawasan pantai Kuta Lombok.
Pantai Mawi terkurung di teluk yang kecil hingga ombak tidak terlalu keras menghempas
Untuk menuju lokasi ini dari jalan utama belum ada pekerasan jalan hanya ada beberapa jalan bekas aspal namun sudah hancur karena menggunakan jenis pekerasan aspal biasa, setelah masuk kira kira 500 meter ada pos penjagaan untuk penarikan tiket masuk.
Setelah itu harus berhati-hati dengan medan lokasi ini jika musim kering jalan akan bergelombang cukup dalam dengan jarak 2 sampai 3 meter sehingga jika menggunakan kendaraan sepeda motor saya saran kan untuk berdiri sambil mengendarainya tapi tetap pelan-pelan dan hati-hati ya.
Jalur ke pantai Mawi saat musim hujan, masih satu jalur dengan pantai Semeti
Lalu bagaimana jika datang saat musim hujan ke lokasi ini ? saya saran kan jangan masuk melewati medan ini saya sudah beberapa kali mencoba masuk saat musim hujan.
Sungguh sengsara dan akan membuat kita akan stress dengan penyesalan yang sama namun mengapa saat itu kami sedang membawa tamu lokal dari Bandung yang memang high light turnya adalah ingin mengunjungi pantai Semeti karena masih menggunakan jalur yang sama dengan mengunjungi pantai Mawi.
Hal ini membuat kami ingin memaksakan untuk mengunjungi pantai Semeti namun pada akhirnya kami terjebak masuk ke dalam lumpur yang licin hingga membuat wisatawan yang kami bawa merasa stress bahkan salah satu (suaminya) ikut membantu mendorong mobil karena mobil tidak bisa laju hanya roda belakang yang berputar-putar memercikkan lumpur.
Bila kita bicara beberapa puluh tahun yang lalu tentang pariwisata di Lombok, Terutama tentang pantai Malimbu mungkin saya sendiri sebagai orang Lombok tidak pernah terpikir tentang masa depan pulau ini akan menggantungkan harapan kepada pariwisata sebagai sumber PAD yang akan menjanjikan bagi masyarakat Lombok.
Saya lahir di Lombok hingga dewasa tidak pernah merasa Lombok itu sesuatu yang unik secara geografis tapi setelah banyak melihat dari televisi maupun mengunjungi daerah lain barulah saya sadar ternyata apa yang saya lihat di luar pulau Lombok tidak se-bagus seperti apa yang saya lihat di Lombok.
Keadaan jalur pantai Malimbu sekarang sudah mulus
Bicara soal pantai Malimbu pertama kali saya melintasi di jalur ini sekitar tahun 1994 waktu itu berkendara dengan motor operasional kantor dari tempat teman saya bekerja.
Saya saat itu statusnya di bonceng, kebetulan kita baru saja pulang dari Sembalun (100 Km dari kota Mataram) pulang melintasi jalur Malimbu.
Pertama kali saya melintasi jalur ini, dari Sembalun setiba di perempatan kecamatan Pemenang ada 2 pilihan jalur yaitu: kalau kita belok kiri melalui hutan Pusuk kita akan menempuh jarak 30 km ke kota Mataram tapi kita lolos saja melalui pantai Malimbu berjarak 45 km jika berputar menuju kota Mataram melalui jalur pesisir pantai.
Sungguh tidak saya sangka jalur ini benar-benar ekstrim dengan kondisi jalan yang rusak, berlubang, tikungan nya sangat tajam dan tanjakan nya Nauzubillah mungkin itu kata yang tepat untuk mengilustrasikan medan ini, hampir-hampir antara ya atau tidak motor SupraXX yang kita tunggang ini benar-benar mengerang dan berjalan sangat pelan.
Mungkin sama persis dengan kecepatan orang berjalan kaki dan tanjakan seperti ini sangat banyak mungkin hampir puluhan tempat dan tidak ada tampak angkutan umum Satu pun yang melintas atau mungkin juga memang tidak ada karena sepanjang jalan tidak ada yang tampak perkampungan, saat itu sudah sore dan kita-pun merasa diburu waktu karena takut berjumpa gelap.
Tampak Teluk Nipah di bawah bukit Malimbu
Semua cerita perjalanan yang eks trim ini benar-benar terasa seimbang karena sepanjang perjalanan saya betul-betul merasa terpesona dengan panorama sepanjang perjalanan, melihat pantai yang begitu indah, bertebing namun seperti diukir.
Pohon-pohon kelapa yang rimbun nan subur, terlihat siluet gunung Agung yang hampir tersapu senja, tampak 3 Gili (Trawangan, Meno dan Air) berjejer sangat indah, air laut yang tampak tenang sunyi dan syahdu. Suasana seperti itu hingga saat ini masih terekam dalam kerinduan saya tentang jalur ini.
Kini jalan raya sudah berkonstruksi dan terdapat relling disetiap jurang
Mungkin cerita itu sudah menjadi sebuah kenangan kini jalur yang saya jabar kan sudah berubah pesat sangat bagus, tertata, berkonstruksi Lebar, halus dan semua tanjakan yang eks trim sudah di turunkan elevasinya dan sisi-sisi jalan yang bertebing dikepras dengan menggunakan alat berat.
Karena sebelumnya terlalu sering ada mobil yang mogok hingga menurunkan penumpang baru bisa menaiki tanjakan termasuk bus-bus pariwisata lebih baik memilih berputar melalui desa Sandik kecamatan Gunung Sari dan melintasi hutan Pusuk untuk tujuan ke pelabuhan Bangsal atau pun untuk tujuan berwisata ke air terjun yang berada di Senaru kabupaten Lombok Utara.
Dari sini nampak dengan jelas Gili Trawangan
Pantai Malimbu berjarak tidak jauh dari pantai Senggigi sedikit ke arah utara kira-kira 10 km dan 3 km sebelumnya ada patokan pembatas kabupaten Lombok Utara dan Lombok Barat persis berada di atas tanjakan yang dekat dengan hotel Jeeva Klui dan bukit Malimbu berada pada wilayah kabupaten Lombok Utara.
Saat ini pada sore hari banyak para kalangan remaja yang datang menggunakan sepeda motor dari kota Mataram berbondong-bondong untuk pergi bersantai menunggu matahari terbenam, pantai ini sungguh menawan yang terdiri dari pesisir pantai yang berbukit-bukit hijau.
Malimbu bertebing terjal, apabila tempat penginapan Anda berlokasi di kawasan Senggigi dan hendak mengunjungi Gili Trawangan Anda akan melintasi jalur ini.
Wajah Malimbu sebelum matahari Terbenam
Konstruksi jalan menuju pantai Malimbu cukup lebar dan beraspal licin ada dua tempat pemberhentian (view point) yang diberi reeling pengaman di sini Anda bisa turun untuk beberapa menit untuk mengambil foto di mana dari sini akan tampak Gili Trawangan, Meno dan Air dari kejauhan serta bukit-bukit hijau yang menjulang tinggi yang dihiasi oleh pohon-pohon kelapa di bagian bawah bukit.
Begitu juga halnya dengan garis pantai yang berpasir putih yang ditanami pohon-pohon kelapa secara teratur yang membuat perjalanan Anda melintas di lokasi ini akan berdecak kagum dengan pesona keelokan pantai Malimbu.
Saat ini di kawasan pantai Malimbu sudah terlihat ada beberapa villa yang sudah dibangun megah begitu juga pembangunan hotel berbintang berskala besar sudah tampak beberapa unit konstruksi bangunan kamar hotel sudah mau hampir jadi di teluk Nipah.
Lokasi pengambilan gambar dari Villa Hantu
Terlebih dahulu hotel “Puri Malimbu” sudah mendahului pertama kali yang terletak persis di tanjung yang paling tampak tajam mencorok ke lautan.
Selain itu juga banyak hotel-hotel yang menyusul dibangun salah satunya ada yang gagal untuk dilanjutkan mungkin ini berkaitan dengan izin bangunan yang tidak direstui oleh pemerintah daerah.
Hingga kini menjadi terlantar setengah jadi hingga orang-orang memberi nama Villa Hantu karena villa ini seperti rumah yang sudah dihuni hantu, yah kira-kira begitu (ini kan kata saya) tapi kini villa Hantu menjadi lokasi yang sangat populer untuk tempat lokasi berfoto dan selfy karena view di lokasi ini sangat bagus untuk fotografi.
Selain itu view point di bukit Malaka di tepi tebing sudah dibuat lebar untuk tempat parkir motor di sini pengunjung bisa turun sedikit untuk mencari lokasi mengambil gambar yang bagus.
Terdapat rimbunan beberapa pohon kelapa yang membelakangi birunya lautan dan siluet gunung Agung di Bali yang tampak terlihat indah, juga dari lokasi ini sangat bagus untuk mengambil Gambar Teluk Nipah di bawah rimbunan pohon-pohon kelapa.
Selain di Bali di Lombok juga ada pantai Kuta Mandalika, yang berlokasi di Lombok selatan kabupaten Lombok Tengah, pantai ini sungguh pesonanya sangat mengagumkan bila dilihat dari ombak pantainya yang bergulung-gulung indah.
Dihiasi bukit bukit terjal yang terdapat di bibir pantai berpasir putih, dengan berbagai macam keunikan dari butir-butir pasirnya.
Aneka Pasir Putih di Pantai Kuta Mandalika
Ada yang berukuran kecil lembut dan halus, berukuran sedang, bahkan ada yang berukuran besar yang menyerupai butiran merica atau yang biasa disebut pasir merica.
Tampak pemandangan pantai Kuta, Lombok Tengah dilihat dari atas bukit. Pantai ini masuk dalam KEK Mandalika Resort. Ivan/Lombok Post
Jika nanti Anda datang ke Lombok dan sempat berkunjung ke sini, jangan heran ketika seorang anak kecil menawarkan Anda se-botol plastik kecil air mineral 600 ml yang diisi pasir putih.
Pasir nya mirip butiran merica, itu artinya setiap pengunjung yang datang ke tempat ini sering mengambil pasir untuk dijadikan souvenir.
Jika nanti sepulang dari berlibur di Lombok untuk ditunjukkan ke sanak famili saat mereka pulang ke tempat asalnya dan bercerita tentang keunikan pasir yang berada di pantai Kuta Lombok yang saat ini sudah menjadi Kawasan Ekonomi Khusus dengan sebutan Kuta Mandalika.
Nama Mandalika merupakan nama dari putri Kerajaan yang ada di Pulau Lombok, sama halnya putri Kendedes yang merupakan putri kerajaan Singasari
Pantai Kuta Tempo Dulu Sebelum Menjadi Kawasan Khusus
Pantai Kuta dibentengi bukit-bukit cadas
Sebelumnya kawasan ini merupakan lahan yang sangat kering dan tidak terlalu banyak penduduk yang bermukim di tempat ini.
Karena lahan di sekitarnya hanya merupakan bukit-bukit cadas yang hanya saat-saat musim hujan baru akan kelihatan hijau.
Jenis tanaman yang bisa ditanam pada lahan yang terdapat di sekitar pantai Kuta berupa tanaman jagung dan kacang tanah pada celah-celah bukit yang cadas.
Hampir tidak terlihat adanya aliran air irigasi yang menuju ke daerah ini sehingga hanya sedikit saja lahan yang bisa ditanami oleh penduduk setempat dan lahan seperti ini tidak terlalu mendominasi.
Setelah Kuta Lombok menjadi destinasi pariwisata sejak tahun 1990Â diiringi dengan banyaknya akomodasi penginapan berupa hotel, bungalo, home stay dan pondok yang berkembang di daerah ini termasuk usaha-usaha jenis lain yang bergerak dibidang pariwisata.
Pantai Kuta Mandalika Saat ini Sudah Tertata dan Banyak Hotel
Foto kenangan pantai kuta sebelum tertata seperti saat ini.
Pantai Kuta yang begitu indah kini sudah bukannya semakin berkembang karena dinodai oleh orang-orang setempat yang merasa memiliki wilayah.
Dengan seenaknya mendirikan bangunan-bangunan tempat berjualan yang sangat melanggar estetika keindahan pantai.
Tidak seperti sebelumnya pada saat para wisatawan melintas di pesisir pantai Kuta akan disuguhkan dengan pemandangan pantai yang indah dan mempesona (Situasi ini sekarang sudah beda)
Namun saat ini ketika menolehkan pandangan ke arah pantai justru yang tampak bangunan-bangunan liar yang tidak tertata bahkan ada yang terkesan kumuh.
Keberadaan mereka-mereka ini sungguh tidak bersahabat ketika aparat yang berwenang memperingati seakan tidak merasa bersalah justru terkesan dulu-duluan mengambil bagian kaplingan.
“Saat ini keadaan tidak tertata dan banyak bangunan yang menutupi pantai sudah dibongkar, ditertibkan dan sudah tertata rapi “
Tapi jangan berkecil hati untuk mengunjungi tempat ini karena tempat tempat yang kami maksudkan tersebut hanya sebagian kecil dari wilayah pantai Kuta.
Ilustrasi tulisan artikel di atas merepresentasikan keadaan yang lampau tapi kini pantai Kuta Lombok sudah merupakan kawasan pariwisata istimewa atau KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) yang berdaya saing akan mengimbangi pariwisata Bali.
Bentuk perubahan terakhir atau saat ini.
Adapun perkembangan pantai Kuta saat ini sudah sangat pesat sekali sudah banyak hotel-hotel yang bermunculan di sepanjang pantai bahkan hotel-hotel yang lama kini sudah ikut berbenah menjadi lebih baik.
Banyak di antaranya yang sudah memperluas bangunannya, selain itu di pantai Kuta sudah dibangun tulisan banner sebagai tempat para pengunjung dari luar mengambil momen kunjungannya datang ke pantai Kuta atau istilah kerennya sekarang yaitu tempat Selfie yang bertuliskan dengan huruf balok besar ”THE MANDALIKA Kuta Lombok”.
Saat Ini Sudah Touristic Atau Sudah Kebanyakan Pengunjung
Central Kuta Lombok
Jangan heran di tempat ini saat musim kunjungan akan dipadati hingga antre untuk mengambil gambar di Lokasi ini (Lokasi ini sudah berubah wajah)
Perkembangan selanjutnya tulisan sign ini sudah diubah lagi menjadi The MANDALIKA kami-pun belum tahu dengan alasan apa hingga sekarang menjadi The MANDALIKA.
Mungkin untuk lebih memperluas makna dari lokasi jika disebutkan Mandalika maka artinya akan dimaksudkan menjadi lebih luas termasuk Tanjung Aan dan pantai Seger.
Setelah dirubah nya status zona wisata ini menjadi lebih khusus dengan kemasan menjadi KEK atau Kawasan Ekonomi Khusus yang melibatkan andil ITDC (Indonesia Tourism Developments Corporate)
Merancang objek wisata di resort Mandalika ini menjadi kelas internasional dengan dukungan infrastruktur yang memadai dan Massif termasuk juga sedang dilaksanakan pembangunan Sirkuit Motto-GP untuk taraf internasional.
Tahap proses pemasangan paving block di pantai kuta
Adapun tempat tempat lain yang sebelumnya sudah di bangun terlebih dahulu oleh hotel Novotel dengan konsep Mandalika resort yang sudah menata jalan umum menuju masuk ke kawasan hotel dengan pekerasan yang cukup rapi dan tertata, banyak dihiasi oleh ornament batu alam dengan konsep monarki.
Kini banyak sudah yang ikut tertata dengan banyaknya persimpangan yang masih belum saya pahami seperti apa konsep rancangan yang akan penataan kawasan Mandalika resort ini.
Jalur masuk utama yang sebelumnya berada dekat dengan pasar seni kini bergeser ke arah timur dengan gerbang besar dengan dibuatnya pintu masuk dua jalur hingga lokasi ini menjadi lebih dekat menuju pantai Seger ke timur sedikit dan ke pantai Kuta dengan jarak yang sama.
Waspada Dengan Para Pengasong Yang Kurang Menyenangkan
Para pengasong yang akan mengusik anda saat bersantai di pantai Kuta.
Adapun hal-hal yang harus Anda Waspadai saat berwisata di pantai Kuta Mandalika yaitu Anda akan dikejar kejar oleh para pedagang pengasong yang bergerombol yang akan menawarkan barang jualan mereka.
Hal ini harus Anda maklum karena ini adalah bagian dari sisi kehidupan di pantai Kuta Mandalika, tapi jangan heran mereka ini sudah fasih berbahasa Inggris.
Sejak mereka kecil mereka hidup di lingkungan pariwisata yang berharap tumpuan hidupnya dari berjualan souvenir.
Biasanya para pengasong menjual aneka gelang, baju kaos oblong (bertuliskan jargon pariwisata Lombok), ada kain yang menyerupai kain tenun Lombok.
Kenapa saya katakan demikian karena setahu saya kain tenun harganya cukup mahal di atas Rp 300,000 tapi kalau sampai harganya Rp 60,000 kemungkinan tidaklah ya.
Karena dilihat dari kasat mata juga kain akan tampak kelihatan tipis sementara kain tenun asli lebih cenderung terasa tebal dengan berat terasa bagaikan membawa kain basah.
Suhu Udara Sangat Panas di Saat Musim Hujan di Kuta Mandalika
Bersama dokter Dina dan keluarga
Selain itu saat siang hari udara di pantai Kuta sangat panas menyengat serta silau kalau tidak pakai kacamata hitam.
Di sana sudah ada disediakan tempat berteduh ada beberapa gazebo dan di pinggir pantai juga ada pohon pohon kecil tempat Anda berteduh.
Suhu udara memang terasa menyengat di musim hujan. Bila terasa haus di sepanjang pantai banyak para pedagang yang menjual kelapa muda tapi tidak ada yang jual es campur ya, jika nyari pedagang es campur mesti datang ke Cafe di pinggir pantai.
Perlu untuk diketahui saat ini pengelola pantai Kuta sedang gencar mencari dana jadi di setiap tempat berhenti mesti ada tukang parkir yang nodong memberikan karcis parkir.
Lumayan Rp 10.000 untuk mobil dan Rp 5.000 untuk sepeda motor di setiap tempat parkir.
Selain itu sekarang sudah dibangun fasilitas tempat toilet umum dan sedang dalam pengerjaan untuk membangun pos polisi pariwisata dan sekarang sudah berdiri mewah dengan fasilitas toilet yang cukup bersih di sebelah nya.
Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak artinya: Gunung eman atau Sayang atau Tanggung atau sangat Disayangkan sudah kecil di tengah laut lagi yang tidak bisa dijadikan tempat bercocok tanam hal ini perlu untuk saya perjelas mengacu pada komentar pengunjung di salah satu blog.
Dalam komentarnya seolah olah lucu dalam pemberian nama untuk lokasi atau nama Gunung Tunak adalah salah memberi nama yang dia maksud orang Lombok salah memberi nama  “sudah gunung kok di tengah laut lagi” katanya, padahal filosofi dari nama tersebut sangat kami pahami sebagai orang Lombok.
LOKASI TAMAN WISATA ALAM GUNUNG TUNAK
Gunung Tunak bagian dari sisi barat tanjung
Saat ini TWA Gunung Tunak merupakan destinasi baru-baru saja populer diperbincangkan di kalangan traveler dimulai sejak awal tahun 2014.
Taman Wisata Alam Gunung Tunak berlokasi di Lombok selatan di desa Mertak kecamatan Pujut kab. Lombok Tengah dari pantai Kuta ke arah timur kira-kira 23 km hingga sampai di view point di atas tebing cadas yang mengandung berbatuan kapur.
Apalagi setelah dikunjungi oleh selebriti tanah air kita yaitu Nadien Chandrawinata pada bulan Maret 2015 berpose duduk di ujung batu sambil menghadap bongkahan karang yang menjulang di tengah laut kira-kira berjarak 50 meter dari pinggir tebing kemudian di-posting di Facebook.
Jalur ini masih searah menuju pantai Kuta tapi di persimpangan bundaran Kuta kita harus lolos sejauh 10 km hingga kita akan tiba pada pertigaan menuju pantai Bumbang dengan ciri terdapat gapura berwarna oranye.
Di gerbang penjagaan polsus terdapat tulisan ketentuan yang harus ditaati
Tidak jauh dari Gapura ada banner finil di sudut persimpangan tertulis “TAMAN WISATA ALAM GUNUNG TUNAK” dan petunjuk arah 2 km ke pantai Bumbang tapi tulisan finil yang kami maksudkan sekarang sudah rusak dan digantikan dengan gambar iklan resort hotel.
Setelah berbelok ke arah kanan mengikuti jalan aspal setiba di pantai pemandangan keramba milik Balai Budidaya Laut (BBL) terlihat bertebaran bagaikan kotoran terkurung di teluk Bumbang.
Selanjutnya belok kiri mengikuti jalan aspal, memang sangat mengganggu pemandangan untuk sebuah objek wisata yang sangat indah jika tidak ada keberadaan keramba-keramba yang bertebaran di teluk Bumbang ini.
Tapi dari sisi lain untuk peningkatan hasil perikanan sangat potensial dan bagus, kita memang tidak harus egois untuk menilai semua hal dari sudut pandang kita masing-masing.
Apalagi memandang dari sisi buruknya tanpa harus mempertimbangkan sisi kebaikan lainnya, buruk untuk pariwisata tapi baik untuk hasil perikanan.
Gunung Tunak bagian dari sisi Timur tanjung
Dari ujung jalan aspal yang berakhir di pesisir pantai tapi kini pekerasan badan jalan aspal sudah sampai pada gapura Gerbang Wisata Alam Gunung Tunak.
Selain itu sudah berdiri bangunan di samping gerbang yang merupakan bangunan milik BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) yang terdiri dari bangunan untuk pusat informasi, bangunan aula untuk pertemuan dan terdapat beberapa kamar guest house.
MEDAN JALAN DAN PUNGLI DI KAWASANÂ LOKASI GUNUNG TUNAK
Dari gapura ini terdapat jalan tanah (seksrang sudah diaspal) untuk menuju lokasi Taman Wisata Alam Gunung Tunak yang mencakup luas wilayah 312 hektar, menurut informasi dari staf penjaga TWA Gunung Tunak ini yang berseragam Polsus (Polisi Kehutanan) pada bulan Mei 2018 jalan akses masuk ke lokasi objek inti wisata Gunung Tunak akan diaspal hingga ke lokasi objek pantai.
Setelah sampai di pantai tak ada tempat teduh tempat kami harus parkir terkecuali ke arah ujung bawah tebing
Sungguh disayangkan terdapat penghalang yang terbuat dari bambu untuk penarikan tiket masuk Rp 5,000 untuk satu orang dari harga tiket masuk Rp 5,000 untuk satu orang sangat terkesan aneh karena tidak ada tiket resmi dan tidak ada loket karcis waktu itu.
Ternyata itu adalah pungli dari orang kampung yang mengklaim bahwa pengunjung melewati halaman depan rumahnya.
Barulah setelah kita menerobos pesisir pantai sejauh kira-kira 1 km meter terdapat lagi loket karcis yang tidak ada penunggunya (waktu itu) dan yang kami maksudkan adalah gapura atau gerbang wisata TWA Gunung Tunak yang saya bahas di atas dan 28 Januari 2018 kemarin saya bayar tiket masuk di sini Rp 7.500 / orang karena hari minggu.
Jika hari kerja tiket masuk kita bayarkan Rp 5.000 / orang tapi kami-pun harus masuk terus untuk menuju lokasi dengan melintasi konstruksi jalan aspal hancur dengan bahan material kerikil bertaburan.
Saat saya berkunjung yang ke dua kalinya akhir Januari 2018 badan jalan menuju pantai tergenang air hujan dan berlumpur ada beberapa pengunjung yang berbalik tidak sanggup untuk melintasinya.
Untuk menuju objek inti kita harus menaiki tebing menuju arah lokasi menara seperti yang nampak di gambar ini
Setelah masuk ke kawasan hutan yang tidak terlalu basah 5 km sebelum masuk ke lokasi pantai terdapat lagi petugas dari departemen kehutanan dengan berseragam hijau kecokelatan dengan bentangan portal dari batang bambu dan ada petugas dari kehutanan yang berjaga di lokasi dengan menyodorkan tiket masuk sebesar Rp 7.500 / Orang
Untuk satu orang pengunjung tapi kini sudah tidak dipungut lagi di lokasi ini cukup sekali kita hanya bayar tiket masuknya di gerbang yang sudah saya sebutkan tadi. Menuju lokasi wisata ini memang aneh kok begitu banyak lokasi tempat penarikan tiket masuk terus mana yang benar ?
Sisi kanan tebing teluk pantai Gunung Tunak
Ternyata menurut keterangan dari pos penjagaan kehutanan di sinilah tempat penarikan tiket masuk resmi sementara di lokasi yang pertama tadi itu pungli katanya lalu bagai mana bisa terjadi seperti itu.
Mereka bilang itu pungli dari masyarakat yang mengklaim pengunjung melintasi tanah pekarangan mereka, padahal tidak demikian yang kita lewati itu pesisir pantai.
Ah, sepertinya ribet untuk berkunjung ke lokasi ini menurut keterangan para penjaga pos kehutanan, mereka sebelumnya pernah berseteru melarang adanya pungutan masuk.
Mereka bersikeras mengklaim pengunjung melintas masuk melalui tanah pekarangan mereka dan kini lokasi yang kita maksudkan sudah tidak ada lagi karena pesisir pantai sudah diaspal, masak orang kampung mau pasang portal lagi di jalan aspal ?
Bersama teman-teman pecintai sepeda MTB berangkat dari kota Mataram.
Terus yang aneh juga kok pihak polisi kehutanan bisa mengurusi tiket masuk taman wisata kebetulan kami datang pada hari libur bersama teman-teman dari team goes sepeda MTB.
Harga tiket masuk Rp 7.500 / orang itu untuk harga hari libur dan untuk hari biasa Rp 5,000 / orang sementara untuk pengunjung asing dikenakan biaya Rp 150,000 / orang untuk hari libur dan Rp 100,000 / orang untuk hari biasa.
Harga tiket masuk ini sangat fantastis dan paling ter-mahal menurut se-pengetahuan saya untuk biaya tiket masuk destinasi pariwisata di pulau Lombok, ini sangat tidak wajar tapi hal ini sudah ada ketentuan dari pemerintah pusat bahkan sudah dipampang di tempat umum dan terdapat ketentuan-ketentuan pasal yang mengikat.
waktu itu ada 2 orang turis Prancis yang menggunakan sepeda motor yang berkunjung ke lokasi ini balik karena tidak sanggup membayar tiket masuk sebesar Rp 150.000 / Orang.
Kita harus menaiki tebing sisi kiri untuk menuju lokasi menara
Akhirnya kami melanjutkan menuju arah pantai Gunung Tunak setelah membayar tiket masuk Rp 7.500 / orang waktu itu.
Kami datang dengan membawa sepeda MTB, tapi sebelumnya kita melihat jalan ke arah kanan itu ada tujuan ke objek lainnya juga katanya yang masih satu paket dengan harga tiket masuknya.
Baru-baru ini kami tahu dari informasi orang yang pernah berkunjung ke sana ternyata itu tujuan ke lokasi objek Gili Penyu seperti yang pernah saya lihat di gambar objek pariwisata pulau Lombok.
Kunjungan anda belum lengkap jika tidak sampai di lokasi menara itu.
Tentu sangat menyedihkan karena tidak sesuai dengan biaya masuk yang sudah kita bayarkan.
Di lokasi sangat sepi pengunjung dan tidak ada bangunan fasilitas pendukung saat itu.
kini sudah terdapat bangunan saung kayu atau gazebo di beberapa titik dan yang pasti di 3 titik dengan ukuran besar 3 x 5 meter.
DI LOKASI PANTAI TWA GUNUNG TUNAK
Terdapat tanah cadas dan semak berduri yang membuat salah satu teman kami mengalami bocor ban akibat tertusuk duri. Bahkan ada yang nyeletuk untuk tidak akan datang lagi ke lokasi ini, cukup yang pertama dan yang terakhir kali katanya.
Lebih dekat ke arah menara, di atas tebing yang cadas
Apalagi mengingat akses masuk menuju lokasi ini sangat tidak bersahabat dan tidak menyenangkan.
Akan lain ceritanya jika jalan sudah di aspal pada bulan Mei 2018 nanti, wacana ke depan dari pihak BKSDA akan membuat taman kupu-kupu kini sudah terwujud dan bangunannya sudah ada Butterfly Education Center.
Konstruksi bangunan berdinding tembok dan terdapat jaring di sebagian konstruksinya, juga akan membuat kandang rusa di sekitar pos jaga tapi tetap kami pesimis menanggapi semua itu.
harga tiket masuk terlalu mahal dengan tanpa ada fasilitas di lokasi pantai. Kami pun akhirnya berbalik dengan penuh rasa kecewa hingga di pertigaan pintu gerbang kita memilih jalur kanan menuju teluk Ekas di jalan utama dan keluar menuju jalan utama di desa Mujur menuju arah kota Praya.
Sangat nampak besi menara terlihat sudah ada karat